Parpol Pengusung Anir-Lutfi Kawal Usulan Kelompok Tani Minasatene Pangkep

Online24, Pangkep – Keluhan dan usulan para Kelompok Tani Bontotene dan Bonto Tajjoro Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Pangkep, langsung direspon oleh parpol koalisi pasangan Andi Nirawati-Lutfi Hanafi (Anir-Lutfi).

Keluhan petani ini terungkap saat Anir bertatap muka dengan warga Kelurahan Biraeng dan Kelompok Tani Bontotene, pada akhir pekan lalu.

Partai Gerindra, Hanura dan PKS selaku parpol pengusung Anir-Lutfi, akan membawa usulan petani ke DPRD Pangkep dalam pembuatan terowongan lantaran akses jalan yang biasa dilalui ke sawah kini tertimbun material pembangunan rel kereta api.

“Teknisnya saya sebagai anggota DPRD Pangkep dan teman-teman melihat bagaimana master plane dari rel itu. Misalkan, di mana ada titik terowongan perlintasan. Jika dimungkinkan dekat-dekat dengan lokasi Biraeng, itu kita sampaikan, sosialisasikan ke semua warga bahwa ada perlintasan di sini misalnya,” ucap legislator DPRD Pangkep dari Fraksi Gerindra, Syahruddin, pada Senin (29/9/2020).

Wakil Ketua DPC Gerindra Pangkep ini menegaskan, jika lokasi terowongan dianggap tidak ekonomis buat petani, pihaknya akan mengusulkan pembuatan perlintasan baru meski membutuhkan biaya baru. “Jika itu memungkinkan, sesegera itu kita buat. Kita usulkan ke pimpinan proyek melalui siapa yang membiayai proyek itu,” kata pria 58 tahun ini.

Dia menegaskan, yang jelas amanah ini sudah ditangkap untuk diusulkan ke pihak yang berkompeten.

Sementara itu, anggota Kelompok Tani Bontotene Hafiruddin Halik mengatakan, pihaknya telah menyurati PPK Pengembangan Perkeretaapian Sulawesi Selatan pada 2 September 2020. namun hingga kini belum ada jawaban signifikan.

“Sebenarnya sudah kami menyurat ke PPK Satker Perekeretapian Sulsel. Surat tersebut atas nama kelompok tani, dan diketahui oleh PPL dan Lurah Minasatene. Namun sampai saat ini pihak lurah belum memfasilitasi atau dipertemukan antara petani, Satker, dan kontraktor. Belum ada juga surat pemberitahuan dari satker,” ujarnya.

Dalam surat tersebut, Kelompok Tani menyebutkan 4 poin penting. Pertama, pada KM 40-600 s/d KM 41+100 pada gambar rencana rel kereta api, dibuatkan terowongan untuk akses alsintan (alat pertanian) terutama mesin pemotong padi.

Kedua, pada KM 41-080 terdapat jaringan sekunder Tabo-tabo, diinginkan dibuatkan jembatan pelintas untuk mesin pemotong padi karena selama ini ada jembatan kayu milik warga namun tergusur oleh pembangunan rel kereta api.

Ketiga, perlu rekondisi pembentukan badan jalan sisi bagian barat rel kereta api. Terakhir, pada underpass saluran pembuang KM 40-700 dibuatkan plat pelintas sebagai akses mesin pemotong padi bagian sisi barat dan sisi timur rel kereta api. (*)