Pangdam Hasanuddin Bantu Biaya Operasi Anak Tanpa Lubang Anus di Maros

dprd-makassar

Online24, MAROS– Derita Salma (4) yang mengalami Atresia Ani, ternyata menyedot empati dari berbagai pihak. Tidak terkecuali Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Andi Muhammad.

Muhammad pun menyambangi kediaman orang tua bocah tersebut di Desa Borikamase, Dusun Tabbenge, Kecamatan Maros Baru, Rabu, 16 Februari 2022.

“Saya dapat informasi dari babinsa saya bahwa bahwa pak Mansur (Ayah dari Salma) mempunyai anak yang tidak memiliki anus,” katanya.

Muhammad pun menyiapkan langkah penuntasan persoalan bocah tersebut.

“Kami akan bawa ke Rumah Sakit Pelamonia Makassar untuk dioperasi,” ungkapnya.

Untuk Kesembuhan, Salma, Muhammad mengaku akan memberikan pengawalan untuk kondisi kesehatan anak tersebut.

“Biayanya akan kami tanggung hingga tuntas,” katanya.

Dia menyebutkan, seluruh anggota harus menjadikan 8 wajib TNI sebagai pedoman.

“Terutama yang kedelapan, mempelopori usaha-usaha mengurangi kesulitan rakyat sekelilingnya,” ucapnya.

Tak hanya itu Muhammad juga berjanji untuk membuatkan rumah.

“Kita bisa lihat sendiri kondisi rumahnya sudah tidak memungkinkan,” imbuhnya.

Makanya dia berpesan jika kelak Salma telah sehat agar disekolahkan dengan baik.

“Juga diajar mengaji supaya bisa berbakti kepada orang tua,” tutupnya.

Ayah Salma, Mansur (38), mengatakan, sakit yang diderita buah hatinya ini adalah tidak punya anus atau mengidap kelainan yang disebut Atresia Ani.

“Penyakit Atresia Nia, sudah sejak bayi, dulu telah di operasi waktu umur 20 hari,” ungkapnya.

Mansur menceritakan anaknya ini hampir tidak memiliki keluhan bahkan hampir sama dengan anak normal lainnya.

“Salma kesehariannya keluar bermain bersama temannya, cuman harus minum susu secara terus menembus, untuk mengkonsumsi nasi hanya sesekali saja,” ungkapnya.

Diagnosa terakhir menyatakan, Salma harus menjalani operasi selama dua kali.

“Saat ini baru operasi satu kali, waktu umur 20 hari, cuman karna tidak ada biaya, akhirnya belum di operasi hingga saat ini,” ungkapnya.

Dia mengatakan untuk biaya operasi kedua dibutuhkan biaya sekitar 30 juta, sementara upahnya sebagai buruh bangunan hanya 90 ribu rupiah perhari.

“Untuk kebutuhan setiap hari saja kami kesulitan, apalagi disuruh bayar sebanyak itu, kami mau ambil dari mana uangnya kasian, penghasilan juga kadang tidak menentu apalagi musim hujan,” ungkapnya.

Makanya kesulitan biaya membuat Mansur dan Nurjannah belum berani memboyong anaknya meninggalkan rumah untuk menjalani rawat medis lanjutan.

“Kesulitan kami juga saat ini tidak ada kendaraan yang digunakan untuk bolak balik kerumah sakit,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan kontrol sebanyak lima kali dan dua kali operasi.

Pemkot Makassar