Online24jam,Makassar, — Persoalan kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor masih menjadi tantangan sosial di Kota Makassar sejak 2012 hingga saat ini. Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga meninggalkan trauma kolektif bagi warga dalam menggunakan ruang publik.
Merespons kondisi tersebut, program Trauma Kota hadir sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan seni, masyarakat, dan pemerintah. Kegiatan ini berlangsung pada 21 April hingga 13 Mei 2026, menghadirkan pameran foto, seni performans, diskusi publik, serta lokakarya di lima kecamatan yang kerap terdampak, yakni Rappocini, Mariso, Ujung Pandang, Mamajang, dan Manggala.
Inisiator program, Ahmad Amri Aliyyi, menjelaskan bahwa Trauma Kota bertujuan memulihkan rasa aman warga sekaligus membuka ruang dialog melalui pendekatan seni. “Program ini mendorong keterlibatan bersama antara warga dan pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang aman dan ramah,” ujarnya.
Tak hanya menyoroti sisi negatif, program ini juga mengangkat perspektif lain bahwa tidak semua geng motor berdampak buruk. Sebagian di antaranya justru memiliki peran sosial dalam membangun solidaritas, kebersamaan, dan praktik saling mendukung di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Februari 2026 melalui proses kreatif seperti lokakarya performans yang difasilitasi oleh Shinta Febriany, pengambilan foto oleh Ahmad Amri Aliyyi, serta kurasi oleh Arman Dewarti. Dalam proses tersebut, peserta menggali pengalaman personal, melakukan riset terhadap warga, hingga mengkaji bagaimana kekerasan geng motor membentuk trauma kolektif di kota.
Hasilnya, lahir lima karya seni performans dari sejumlah seniman, yang mengangkat berbagai sudut pandang terkait fenomena sosial tersebut. Karya-karya ini menekankan pendekatan kolaboratif, partisipatif, dan interdisipliner sebagai medium refleksi bersama.
Manajer produksi, Widya Handayani, menyebutkan bahwa selain pameran dan performans, diskusi publik juga menjadi bagian penting program. Diskusi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari aparat kepolisian, pemerintah kecamatan, dinas terkait, seniman, hingga korban kekerasan geng motor.
Beberapa lokasi kegiatan di antaranya Kantor Kelurahan Ballaparang, Sanang Space, Museum Kota Makassar, Mal Ratu Indah, dan Gori Artisan Building.
Program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, serta Pemerintah Kota Makassar.
Melalui Trauma Kota, diharapkan lahir kesadaran bersama bahwa persoalan keamanan kota tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Pendekatan seni pun menjadi jembatan penting untuk membangun empati, memahami trauma, dan merancang masa depan kota yang lebih aman dan inklusif.











