Dosen Universitas Sulawesi Barat Berdayakan Masyarakat Pesisir Kelurahan Galung melalui Inovasi Gravity-Fed Water Treatment System

Pengabdian Masyarakat

banner 468x60

Online24jam, Makassar, – Dosen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Sulawesi Barat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara bertahap sejak 8 Agustus hingga 15 September 2026 di Kelurahan Galung, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemberdayaan Masyarakat Pesisir melalui Pendampingan Model Inovasi Teknologi Gravity-Fed Water Treatment System untuk Mendukung Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak.”

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Sulawesi Barat yang diketuai oleh Dr. Ronny, SKM., M.Kes., dengan anggota Dr. La Ode Hidayat, S.Si., M.Kes. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesehatan dan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

Kelurahan Galung dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan wilayah yang memiliki masyarakat pesisir dengan kebutuhan terhadap ketersediaan air bersih dan sarana sanitasi yang layak. Kualitas air yang digunakan masyarakat sangat berpengaruh terhadap kesehatan, kebersihan lingkungan, higiene perorangan, dan pelaksanaan sanitasi rumah tangga.

Keterbatasan akses terhadap air bersih dapat meningkatkan risiko penggunaan air yang belum memenuhi persyaratan kualitas. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, terutama penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi, seperti diare, penyakit kulit, serta gangguan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan teknologi tepat guna yang sederhana, mudah dioperasikan, dan dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Ketua tim pengabdian, Dr. Ronny, SKM., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola air melalui penerapan teknologi Gravity-Fed Water Treatment System.

“Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan sebuah alat, tetapi juga memberikan pendampingan kepada masyarakat agar mampu memahami prinsip kerja, mengoperasikan, serta melakukan pemeliharaan sistem pengolahan air secara mandiri,” jelas Dr. Ronny.

Menurutnya, Gravity-Fed Water Treatment System merupakan sistem pengolahan air yang memanfaatkan perbedaan ketinggian dan gaya gravitasi untuk mengalirkan air melalui beberapa tahapan pengolahan. Sistem tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pompa listrik sehingga lebih hemat energi dan berpotensi diterapkan pada wilayah dengan keterbatasan sumber daya.

Air baku ditempatkan pada penampungan yang memiliki posisi lebih tinggi, kemudian dialirkan menuju unit pengolahan melalui jaringan pipa. Selama proses tersebut, air melewati beberapa media penyaring yang dirancang untuk mengurangi partikel tersuspensi, kekeruhan, bau, warna, serta kontaminan tertentu yang terdapat di dalam air.

Media yang digunakan dalam sistem pengolahan terdiri atas beberapa lapisan, seperti kerikil, pasir silika, zeolit, karbon aktif, dan kain penyaring. Kerikil berfungsi menahan partikel berukuran besar dan menopang media penyaring lainnya. Pasir silika membantu mengurangi partikel halus dan tingkat kekeruhan, sedangkan zeolit dan karbon aktif membantu mengurangi zat tertentu, bau, warna, dan bahan organik di dalam air. Sistem tersebut juga dilengkapi dengan tandon, drum filtrasi, jaringan pipa, katup pengatur aliran, dan kran pengeluaran air. Susunan media serta kecepatan aliran perlu diatur agar air memiliki waktu kontak yang cukup dengan setiap media penyaring. Dengan demikian, proses pengolahan dapat berlangsung secara lebih efektif.

Dr. La Ode Hidayat, S.Si., M.Kes., menjelaskan bahwa keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh bentuk instalasi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan dan merawatnya.

“Teknologi yang diberikan harus dapat dipahami dan dikelola oleh masyarakat. Oleh karena itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai fungsi setiap komponen, cara mengatur aliran air, membersihkan unit penyaring, mengganti media, serta menjaga tandon agar tidak menjadi sumber kontaminasi,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan edukasi mengenai hubungan antara kualitas air, sanitasi, dan kesehatan masyarakat. Peserta memperoleh penjelasan mengenai sumber pencemaran air, risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan, perlindungan sumber air, penyimpanan air yang aman, serta pentingnya menjaga kebersihan wadah penampungan.

Masyarakat juga mendapatkan demonstrasi mengenai proses perakitan dan pengoperasian Gravity-Fed Water Treatment System. Demonstrasi dimulai dari penyiapan tandon, pemasangan pipa dan katup, penyusunan media penyaring, pengaturan arah aliran, hingga pemeriksaan kondisi fisik air sebelum dan setelah melalui proses filtrasi.

Selain demonstrasi, peserta dilibatkan secara langsung dalam mengenali komponen instalasi dan tahapan pemeliharaan. Pendekatan partisipatif tersebut bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola, memperbaiki, dan mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan setempat.

Tim pengabdian menekankan bahwa media penyaring harus dirawat secara berkala. Endapan yang terkumpul perlu dibersihkan, media penyaring harus dicuci atau diganti sesuai kondisi, dan tandon wajib ditutup untuk mencegah masuknya debu, serangga, maupun bahan pencemar lainnya. Saluran air juga perlu diperiksa untuk mencegah kebocoran dan penyumbatan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, demonstrasi, diskusi, dan praktik langsung. Masyarakat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman serta permasalahan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan menjaga sanitasi lingkungan.

Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan peserta selama proses perakitan dan demonstrasi. Berbagai pertanyaan disampaikan mengenai jenis sumber air yang dapat diolah, lama penggunaan media penyaring, cara mengetahui media yang harus diganti, serta langkah-langkah menjaga kualitas air setelah ditampung.

Dr. Ronny berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penyediaan air bersih tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber air, tetapi juga mencakup pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan pemeliharaan sarana.

“Kami berharap masyarakat dapat merawat sistem ini secara bersama-sama dan menjadikannya sebagai sarana pembelajaran dalam mengembangkan pengelolaan air bersih berbasis kebutuhan lokal. Keberlanjutan teknologi sangat bergantung pada keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. La Ode Hidayat menambahkan bahwa pendampingan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi instalasi, efektivitas media penyaring, kualitas air yang dihasilkan, serta kendala yang dihadapi masyarakat selama penggunaan.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Kelurahan Galung diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam mengelola air bersih dan sanitasi. Kehadiran teknologi berbasis gravitasi juga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi tepat guna yang hemat energi, sederhana, dan mudah dipelihara.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut menjadi wujud komitmen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Sulawesi Barat dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan terus dikembangkan agar inovasi yang diterapkan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Dengan adanya kegiatan ini, inovasi yang dikembangkan oleh dosen Universitas Sulawesi Barat diharapkan tidak berhenti pada tahap demonstrasi, tetapi dapat diterapkan, dirawat, dan dikembangkan oleh masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi bersama dalam mewujudkan akses air bersih, sanitasi yang layak, serta lingkungan pesisir yang lebih sehat di Kelurahan Galung, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *