Online24, Makassar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mengusulkan penetapan status tanggap darurat bencana kekeringan menyusul meluasnya krisis air bersih di sejumlah wilayah. Hingga kini, sedikitnya 50.342 warga yang tersebar di enam kecamatan terdampak akibat menurunnya ketersediaan sumber air.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan usulan tersebut akan ditindaklanjuti melalui penetapan resmi oleh Wali Kota Makassar.
Pengumuman status tanggap darurat dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026, bersamaan dengan apel kesiapsiagaan yang digelar di kawasan Tugu Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK).
Menurut Fadli, keputusan itu diambil berdasarkan hasil asesmen dan kaji cepat yang dilakukan BPBD di lapangan. Hasil pendataan menunjukkan enam kecamatan mengalami dampak kekeringan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
Secara keseluruhan, sebanyak 50.342 jiwa yang berasal dari 14.564 kepala keluarga (KK) di 14 kelurahan telah merasakan dampak berkurangnya pasokan air bersih. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah mempercepat langkah penanganan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Sebagai langkah awal, BPBD akan mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga yang mengandalkan sumur maupun air tanah sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari.
Bantuan tersebut diprioritaskan bagi masyarakat yang tidak memperoleh pasokan melalui jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Fadli menjelaskan, pemberlakuan status tanggap darurat akan mempermudah koordinasi lintas instansi dalam proses penanganan. Selain itu, pemerintah daerah dapat memanfaatkan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung berbagai kebutuhan selama masa tanggap darurat berlangsung.
Ia memastikan ketersediaan anggaran dinilai memadai karena pemerintah telah memiliki pengalaman menangani kondisi serupa pada tahun 2023, sehingga proses penanganan diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
Data BPBD mencatat, Kecamatan Biringkanaya menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 14.787 jiwa dari 4.084 rumah. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Tallo dengan 13.762 jiwa dan 2.862 rumah terdampak.
Sementara itu, di Kecamatan Tamalanrea tercatat 9.947 jiwa dari 2.922 rumah mengalami kekeringan. Kecamatan Manggala mencatat 7.610 jiwa dan 1.959 rumah terdampak, disusul Ujung Tanah dengan 2.921 jiwa dari 645 rumah, serta Panakkukang sebanyak 1.324 jiwa yang tersebar di 245 rumah.
BPBD juga mengingatkan potensi memburuknya kondisi apabila musim kemarau berkepanjangan. Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku saat ini, cadangan air bersih yang dikelola PDAM diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 30 hari ke depan apabila tidak terjadi perubahan cuaca yang signifikan.











