Zakir Sabara: Kelak Kita Hanya Bisa Makan Nasi dan Garam

Online24jam, Makassar, – Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI kembali membagikan paket sembako. Kali ini kepada Cleaning Service, Satpam, Keluarga Relawan, Karyawan dan Dosen.

Paket ini diserahkan bersama Grab Makassar yang sekaligus dirangkaikan dengan Pelepasan rombongan driver di Plaza FTI UMI Makassar yang dihadiri oleh Dekan FTI UMI Makassar Zakir Sabara H. Wata dan Lead Marketing Area Sulawesi Herisiswanto.

Program ini merupakan lanjutan dari program “Grebek Mahasiswa Di Kosan” yang juga setiap malam dilakukan dengan membagikan sembako kepada mahasiswa yang masih tinggal di kos kosan sekaligus melihat kondisi mahasiswa.

150 paket bantuan sembako tersebut memanfaatkan fitur baru “Grab Express Car Nalangin” dalam rangka mendukung himbauan pemerintah untuk physical distancing dan sosial distancing untuk mencegah penyebaran covid-19

“Terima kasih kepada Grab Makassar yang memfasilitasi pengiriman paket ini secara gratis kerumah keluarga kecil FTI UMI” ujar Zakir saat membuka acara.

Pengiriman paket tahap pertama hari ini menjangkau tiga daerah yaitu Maros, Makkassar dan gowa dengan menggunakan tujuh kendaraan roda empat. Sebelum dilepas, seluruh driver di semprot antiseptik, dibagikan hand sanitizer dan wajib menggunakan handscoon serta seluruh kendaraan yang di gunakan juga disemprotkan cairan disinfektan.

Adapun Paket Sembako yang dikirim kerumah anggota keluarga kecil FTI UMI adalah

1. Beras 5 Kg
2. Telur Ayam 1 Rak
3. Indomie 1 Dos
4. Gula 1 Kg
5. Minyak Goreng 1 Ltr
6. Terigu 1 Kg
7. Garam 1 Kg
8. Syrup 1 Botol

“Pasti ada yang bertanya, kenapa ada garam?” ujar Zakir.

“Dalam paket ini tersirat pesan melalui “garam” kepada seluruh sivitas akademika, bahwa jika warga masyarakat tidak disiplin, tidak sabar, tidak ikhlas dan “keras kepala” dan masih sering keluyuran tanpa alasan penting dan tanpa alat pelindung diri, maka tidak menutup kemungkinan situasi penanganan covid-19 ini akan berlangsung lama dengan konsekwesi semua sektor produksi terhenti dan warga terpapar semakin banyak yang pada akhirnya orang akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari atau nantinya hanya bisa makan nasi dengan garam saja.” tambahnya.