Sisi Lain dari Kunjungan Sosialisasi Fatma; Selalu Cari Masjid untuk Shalat Berjamaah

Online24, Makassar – Jarum jam menunjukkan pukul 14:51 Wita. Dari arah masjid, suara azan berkumandang. Fatmawati Rusdi sontak beri isyarat. Kampanye terhenti sejenak.

Inilah yang biasa terjadi pada aktivitas kampanye Fatma, calon wakil wali kota Makassar. Menghentikan sejenak segala aktivitas untuk menunaikan salat berjemaah.

Pasangan M Ramdhan Pomanto ini, memang biasanya memulai kampanye tatap muka dengan warga, usai salat zuhur atau sekitar pukul 13.00 Wita. Lalu mengunjungi 5-6 titik hingga pukul 17.00 Wita, sesuai batas waktu kampanye yang ditetapkan KPU.

Dalam agenda kegiatan mantan Anggota DPR RI ini, ada satu catatan yang tidak pernah absen: “salat di masjid terdekat”. Terutama (maaf) jika tidak sedang halangan sebagai perempuan. Fatma juga sebisa mungkin untuk menghindari agenda kegiatan yang akan dihadirinya, bertepatan dengan waktu salat.

“Bu Fatma adalah sosok perempuan yang lengkap bagi saya. Selain religius, juga sukses membina keluarga dan karier,” kata Dewi, salah satu ketua komunitas perempuan pendukung ADAMA’ (akronim Danny-Fatma), pada Senin (5/10/2020).

Menomorsatukan ibadah, sudah menjadi “harga mati” bagi perempuan kelahiran 9 Mei 1980 ini sejak dahulu. Baik saat menjadi Ketua TP PKK Kabupaten Sidrap selama 10 tahun (2008-2018), maupun duduk di parlemen sebagai Anggota DPR RI (2014-2019).

“Bu Fatma memang begitu. Sejak dulu. Setiap tempat yang dikunjungi, mau salat di situ juga,” kata salah seorang staf Fatma.

Selain salat di masjid setempat, Fatma juga biasa memantau kegiatan ibu-ibu alias emak-emak majelis taklim setempat. Saat berkunjung ke setiap kelurahan atau kecamatan di Kota Makassar, begitu bertemu dengan emak-emak majelis taklim, Fatma langsung antusias. Obrolan pun mengalir begitu saja dengan warga.

“Bagaimana majelis taklim ta, Bu?”, “Apa-apa saja kegiatannya?”, Lancar ji pengajiannya?”.
Itulah deretan pertanyaan yang biasa dilontarkan Fatma.

Usai mendapat jawaban, Fatma biasanya berpesan agar pembinaan majelis taklim harus terus berlanjut. Itu karena, menurutnya, majelis taklim adalah sarana penunjang untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang religius. (*)