Andi Nirawati–Lutfi Hanafi, Siap Mewakafkan Diri Memimpin Pangkep

Pasangan calon bupati dan wakil bupati Pangkep, Andi Nirawati-Lutfi Hanafi (Anir-Lutfi)

Online24, Pangkep  – Di tengah kontestasi perebutan elektoral, 4 kandidat yang telah lolos dan resmi terdaftar di KPUD Pangkep sejak tanggal 23 Sepember 2020 sebagai kandidat yang akan bertarung, masing-masing telah merumuskan konsep dan strategi yang dianggap efektif untuk memenangkan pertarungan yang akan ditentukan pada tangggal 9 Desember 2020.

Dalam rumus perang, salah satu cara ampuh untuk memenangkan sebuah pertarungan adalah kejelian membaca kelemahan dan peta kekuatan lawan. Mengetahui kelemahan dan kekuatan setiap lawan dalam sebuah kontestasi pertarungan (politik), maka sesungguhnya separuh tangga kemenangan sudah digapai.

Proses menapaki tangga kemenangan yang secara teknis dan konseptual dilakukan oleh tim dan paslon itu sendiri sejatinya dibutuhkan adanya kesadaran kolektif-ideologis dan sikap konsisten yang secara terus menerus mesti dirawat dan dan dijaga. Dengan demikian, tahapan selanjutnya dengan medan pertarungan seberat apapun tidak menjadi soal, dan dengan begitu, pintu kemenangan akan mudah diraih, yaitu tinggal menjaga ritme dan efektifitas kerja politik tim pemenangan yang lebih inovatif dan aplikatif.

Sebab, pola kerja pemenangan yang tidak bertitik tolak dari kesadaran kolektif-ideologis antar tim pemenangan berpotensi mudah “masuk angin” karena pilihan politiknya lebih pragmatis. Fenomena tim pemenangan “masuk angin” lazim kita jumpai dan dengan mudahnya berpindah haluan dari tim pendukung satu paslon berpindah ke paslon lain.

Dan di antara 4 pasangan ini, pasangan nomor 4, yaitu Ir. Hj. Andi Nirawati – H. Lutfi Hanafi, SE merupakan paslon yang hadir dengan paradigma baru. Ia hadir dengan segudang gagasan besar, inovatif dan monumental.

Karena itu, paslon ini merupakan “atmosfir baru” yang mengusung tema perubahan untuk menuju Pangkep yang lebih sejahtera. Membangun Pangkep Sejahtera atau masyarakat Pangkep yang menikmati kesejahteraan, sejatinya dibutuhkan figur yang benar-benar memahami secara utuh psikologis masyarakat dan problem besar yang melilitnya dan kemudian secara perlahan melakukan diagnosa secara detil dan terukur terkait sumber persoalan besar yang selama ini menjadi penyumbatnya.

Tagline Pangkep Sejahtera adalah sebuah gagasan monumental yang sesungguhnya dirancang dan didisain dengan kajian dan riset ilmiah. Tagline ini bukan sebatas tagline yang hanya sekedar lips service untuk kepentingan meraih kekuasaan sesaat. Filosofi Pangkep Sejahtera sesungguhnya adalah membangun sumber daya manusia yang unggul dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Terkait menata Pangkep ke depan yang lebih berkeadilan dan berkeadaban, tentu publik harus tau narasi besar yang digelindingkan oleh seorang paslon. Jika kita memotret narasi dan gagasan paslon “Anir-Lutfi” yang tercermin di dalam visi dan misinya, di sana memiliki nilai jual tinggi dan patut diapresiasi oleh publik terhadap paslon dengan akronim Anir – Lutfi ini, yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh “penguasa politik” Pangkep sebelumnya.

Narasi dan gagasan besar paslon ini dapat terlihat di dalam misinya, sbb: meningkatkan potensi maritim sebagai sumber PAD; memperkuat kemandirian ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan UMKM dan sektor kreatif; menjadikan kabupaten Pangkep sebagai “Pusat Pariwisata 3 Dimensi”; meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas secara merata dengan pola adaptif dalam pendidikan dasar dan menengah selama masa pandemik; menyediakan sarana dan prasarana serta pelayanan kesehatan yang paripurna, terjangkau dan manusiawi secara berkesinambungan serta pencanangan Pangkep sebagai zona hijau bebas covid-9; menuju tata kelola pemerintahan yang bersih dan melayani.

Hadirnya Anir- Lutfi di tengah-tengah masyarakat yang disambut dengan antusiasme yang luar biasa adalah bentuk kerinduan rakyat akan lahirnya seorang pemimpin baru yang lama ditungggu-tunggu Terbukti pergerakan paslon ini dari hari ke hari mendapatkan porsi tersendiri di hati masyarakat. Bila turun melakukan sosialisasi dan berdialog langsung dengan warga, tak henti-hentinya mendapatkan apresiasi yang luar biasa tingginya dari berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat biasa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, pedagang pasar sampai ibu rumah tangga biasa dst. Proses interaksi dan komunikasi ini antar dua belah pihak nampak sangat natural. Sangat jauh dari kesan kaku dan protokoler.

Proses yang sangat alamiah ini, haqqul yakin, stakeholder dan masyarakat Pangkep yang ada dengan sendirinya akan terjalin sebuah kesadaran kolektif terkait pola sinergitas antar seorang pemimpin dengan rakyat. Karena rakyat sesungguhnya adalah pemegang kedaulatan politik tertinggi yang kemudian ia serahkan tongkat kedaulatannya kepada calon pemimpin yang dipilihnya. Sinergitas ini adalah sebuah kata kunci untuk terjalinnya ikatan batin yang kemudian ujungnya bermuara pada terjadinya kontrak sosial sekaligus kontrak politik antara pemimpin dengan rakyat.

Salah satu prasyarat utama oleh seorang kandidat untuk memenangkan sebuah pertarungan politik (pilkada) adalah kemampuan kandidat itu memahami secara utuh dan jernih atas problematika yang sedang dan akan dihadapi oleh daerah yang akan dipimpinnya tersebut. Kesiapan itu dapat terwujud bila kehadiran seorang paslon meletakkan asas “politik moral”. Politik moral merupakan cara berpolitik dengan menekankan moralitas untuk kepentingan rakyat secara menyeluruh. Inilah arti politik yang sesungguhnya.

Demikian halnya paslon yang berangkat dari paradigma “politik kekuasaan” akan bertumpu pada cara berpolitik untuk mempertahankan dan melaksanakan kekuasaan. Ketika politik kekuasaan yang menjadi tujuan utama seseorang dalam berpolitik, maka yang akan terjadi adalah melanggengkan kekuasaan dan ini berimplikasi negatif pada nilai-nilai demokrasi subtantif. Dan politik pada akhirnya tidak memiliki makna apa-apa selain hanya kekuasaan semata, karena kekuasaan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu. Cara-cara berpolitik untuk meraih kekuasaan seperti ini adalah sebuah kejahatan demokrasi, alih-alih meneguhkan demokrasi justru mereduksi nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Karena itu, untuk membangun nilai-nilai demokrasi subtantif, dibutuhkan adanya kesadaran kolektif dan sinergitas oleh semua pihak dengan seorang calon pemimpin. Dan pada titik ini, hemat penulis, paslon Anir-Lutfi merupakan jawabannya. Ia akan “mewakafkan dirinya” lahir batin sebagai pemimpin yang lahir dari rahim rakyat. Ia siap menjadi pelayan rakyat bukan pemimpin yang mau dilayani. (*)