Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Sulsel, Mengutuk Aksi Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Ketua Pengurus Wilayah (PW) ISNU Sulsel, Prof.Dr.Ir.H.Husain Syam
dprd-makassar

Online24, Makassar – Aksi bom bunuh diri, adalah tindakan biadab, dan sekaligus tidak manusiawi. Siapapun pelakunya, ataupun perangcangnya harus diusut tuntas. Apalagi, dalam pandangan agama manapun, tidak dibenarkan membunuh, apalagi bunuh diri.

Karena itu, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sulawesi Selatan mengutuk tindakan tidak manusiawi yang terjadi di depan pintu sebelah kanan Gereja Katedral, Jalan Kajalalido, Makassar, sekitar pukul 10.30 Wita, Ahad, 28 Maret 2021.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) ISNU Sulsel, Prof.Dr.Ir.H.Husain Syam, meminta pihak terkait, utamanya Kapolda Sulsel, dan Kapolri, segera mengungkap aktor intelektual yang berada di balik bom bunuh diri tersebut.

“ISNU dan jajarannya se Sulsel, mengutuk tindakan bom bunuh diri di Makassar. Aksi itu tidak berperikamanusiaan. Karena itu, siapapun yang berada dibalik bom bunuh diri tersebut dihukum maksimal,” tegas Prof.Husain Syam.

Menurut pria Mandar yang juga Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) ini, aksi bom bunuh diri sebagai bagian dari teroris. Padahal, dalam pandangan agama manapun, tidak dibenarkan melakukan aksi bom bunuh diri, apalagi membunuh.

Pernyataan senada dikemukakan Sekretaris ISNU Sulsel, Dr.Mulyadi, M.Pd. Akademisi Universitas Islam Makassar (UIM) ini melihat, apapun namanya, aksi bom bunuh diri adalah tindakan brutal, keji, dan tidak manusiawi. Apalagi, dilakukan bersamaan, dengan agama tertentu yang sedang melakukan ibadah.

Mulyadi mengharapkan, masyarakat membantu pihak kepolisian untuk memberikan informasi sekecil apapun, agar kelompok kelompok pengacau, atau otak dan jejaring dibalik aksi bom itu segera diketahui.

“Kita serahkan saja kepada bapak bapak kepolisian bekerja. Mereka sudah terlatih dan profesional. Semoga tidak lama lagi, sudah ada informasi yang diperoleh. Karena, seluruh masyarakat Kota Makassar kepingin mengetahui siapa, atau kelompok mana yang melakukan aksi tersebut,” tegasnya, seraya mengajak berbagai elemen masyarakat proaktif mengampanyekan gerakan melawan tindakan kekerasan.

Bagi Mulyadi, seharusnya pada situasi covid-19 yang menyerang dunia, termasuk Indonesia dan Sulawesi Selatan saat ini, seluruh masyarakat, dari manapun berasal, untuk sama sama memeranginya, bukan membunuh, atau melukai manusia lain.

Sebelumnya, diberitakan Tim Inafis Polda Sulawesi Selatan dan Densus 88 tengah mengumpulkan barang bukti, termasuk bagian tubuh pelaku yang tidak berperikemanusiaan tersebut.

Kuat dugaan, terduga pelaku dua orang. Laki-laki dan perempuan. Keduanya tertangkap kamera pengawas CCTV , saat melintas di Jalan Kajaolaido sesaat sebelum bom meledak. Keduanya berboncengan menggunakan sepeda motor matic warna orange bernomor polisi DD 5984 MD.

Dari potongan tubuh yang berserakan salah satunya yang diduga pelaku bom bunuh diri adalah seorang laki-laki dewasa. Kontur wajahnya memiliki kesan lebar dengan kulit agak putih, rambut panjang, dan alis mata tipis. Sedangkan giginya di bagian depan tidak rata, dan terdapat jenggot. Mirip dengan lelaki yang mengendarai motor matic.

Namun, belum diketahui apakah pria itu satu-satunya pelaku yang tewas dalam kejadian itu. Sebab, polisi menduga ada 2 pelaku yang datang dengan berboncengan motor ada di gerbang gereja sebelum ledakan terjadi.

Dalam insiden tersebut, 19 orang jemaat dilaporkan mengalami luka berat dan ringan mereka saat ini dirawat di 3 rumah sakit di Makassar. Selain itu, jalan di depan Gereja Katedral juga ditutup petugas selama pemeriksaan berlangsung. (*)