Online24,Maros – Kasus Tuberculosis (TBC) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan masih tergolong tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Maros mencatat sebanyak 995 kasus TBC ditemukan sepanjang 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 83,17 persen pasien dinyatakan sembuh usai menjalani pengobatan. Sementara angka kematian akibat penyakit menular itu mencapai sekitar 9 persen.
Memasuki 2026, Dinkes Maros kembali menemukan 307 kasus positif TBC dalam kurun Januari hingga April.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Maros, Hasan Rahim mengatakan jumlah tersebut masih jauh dari target penemuan kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebanyak 1.699 kasus positif TBC.
“Sampai akhir April ini kita baru temukan 307 kasus dari target 1.699 kasus positif TBC,” ujar Hasan kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).
Hasan menjelaskan target tersebut dihitung berdasarkan jumlah populasi dan kelompok suspek berisiko tinggi tertular TBC, seperti kontak erat pasien dan warga dengan gejala batuk berkepanjangan.
Menurutnya, pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan dahak atau sputum untuk memastikan seseorang terinfeksi TBC.
Ia menyebut wilayah perkotaan seperti Kecamatan Turikale dan Mandai menjadi daerah dengan kasus TBC terbanyak di Maros. Kondisi permukiman padat penduduk dinilai menjadi faktor utama tingginya penularan.
“TBC itu penyakit menular lewat droplet di udara, jadi sangat terkait dengan kontak erat. Kalau rumah padat, kumuh, populasi tinggi, angka kontaknya juga tinggi,” katanya.
Hasan menerangkan TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. Bakteri tersebut mudah berkembang di lingkungan lembap, minim pencahayaan dan sirkulasi udara buruk.
Ia mengingatkan pasien TBC agar disiplin menjalani pengobatan selama enam bulan hingga tuntas. Sebab, banyak pasien menghentikan konsumsi obat setelah merasa sehat sehingga memicu TBC resisten obat atau Multi Drug Resistant (MDR).
“Kalau sudah resisten obat, pengobatannya lebih sulit dan berbahaya kalau menular ke orang lain,” ujarnya.
Untuk menekan angka kasus, Dinkes Maros memperkuat penemuan kasus aktif melalui skrining dan pelibatan kader kesehatan di desa dan kelurahan.
Sebanyak 103 desa dan kelurahan di Maros juga telah ditetapkan sebagai desa siaga TBC.
“Maros menjadi salah satu kabupaten di Sulsel yang seluruh desa dan kelurahannya sudah menjadi desa siaga TBC,” katanya.
Selain itu, Dinkes Maros juga mendapat bantuan dua unit mobile rontgen dari pemerintah pusat yang ditempatkan di RS Palaloi dan RS Dodi Sardjito guna mempercepat deteksi kasus.
Sementara itu, Bupati Maros, Chaidir Syam mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala batuk berkepanjangan.
“Kalau ada gejala batuk berkepanjangan segera periksa. Jangan menunggu parah karena TBC bisa disembuhkan jika ditangani sejak dini dan pengobatannya tuntas,” tutupnya.














