Dibangun TNI dan Warga Selama 4 Bulan, Jembatan Garuda Merah Putih Resmi Berdiri di Tompobulu

Nasional, News110 Views
banner 468x60

Online24,Maros – Penantian panjang warga di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, akhirnya terjawab. Jembatan Perintis Garuda Merah Putih yang menghubungkan Desa Bontomanurung dan Desa Bontomatinggi resmi diresmikan setelah puluhan tahun warga bergantung pada penyeberangan sungai menggunakan gondola dan berjalan kaki melintasi sungai.

Jembatan sepanjang 100 meter dengan lebar 1,3 meter tersebut dibangun selama empat bulan, mulai Januari hingga Juni 2026. Pembangunannya dikerjakan oleh TNI Angkatan Darat bersama masyarakat setempat melalui sistem gotong royong.

Peresmian jembatan dihadiri oleh Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi, Danrem141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clif Rumbayan, Ketua DPRD Provinsi, Rahmatika Dewi, Anggota DPRD Provinsi Sulsel, A. pattarai Amir, Bupati Maros Chaidir Syam, Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur serta unsur Forkopimda, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilanjutkan dengan pengguntingan pita jembatan perintis garuda oleh Pangdam dan Forkopimprov Sulsel.

Bupati Maros Chaidir Syam mengapresiasi terbangunnya jembatan yang selama ini sangat dinantikan warga. Menurutnya, sebelum adanya jembatan, masyarakat mengalami berbagai kesulitan untuk mengakses layanan pendidikan maupun aktivitas ekonomi.

“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi terbangunnya jembatan ini. Sebelumnya warga sangat kesulitan. Dengan adanya jembatan ini, anak-anak lebih mudah menuju sekolah dan aktivitas perekonomian masyarakat menjadi lebih lancar,” kata Chaidir,(03/06/26).

Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan jembatan tersebut menjadi solusi atas persoalan akses yang dihadapi masyarakat selama puluhan tahun.

Menurutnya, sekitar 1.623 warga dari dua desa akan merasakan manfaat langsung dari keberadaan jembatan tersebut.

“Masyarakat kedua desa ini selama puluhan tahun belum bisa mengakses jalan yang mudah. Jembatan ini sangat vital karena penerima manfaatnya sekitar 1.623 warga. Ini sangat penting untuk aktivitas masyarakat sehari-hari,” ujarnya.

Bangun menjelaskan, sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberangi sungai secara langsung saat musim kemarau. Sedangkan ketika debit air meningkat pada musim hujan, warga menggunakan gondola sederhana dengan menarik tali secara manual.

“Kondisi sebelumnya masyarakat harus menyeberang sungai langsung. Saat musim hujan mereka menggunakan gondola yang ditarik dengan tali. Tentu sangat merepotkan dan berisiko. Sekarang akses menjadi jauh lebih aman,” jelasnya.

Keberadaan jembatan ini juga disambut haru oleh warga. Jamilah, warga Desa Bontomanurung, mengaku selama puluhan tahun masyarakat harus menghadapi berbagai kesulitan untuk bersekolah, pergi ke pasar, hingga mengangkut hasil bumi.

“Kalau air sungai besar, anak-anak tidak bisa sekolah dan warga tidak bisa ke pasar. Dulu sebelum ada gondola, banyak yang harus berenang menyeberang sungai. Alhamdulillah sekarang sudah ada jembatan,” tuturnya.

Ia berharap jembatan tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan mempermudah akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Diketahui Jembatan Garuda Merah Putih ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah kondisi penyeberangan warga menggunakan gondola sederhana sepanjang sekitar 300 meter viral di media sosial.

Kini, keberadaan jembatan permanen tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat Desa Bontomanurung dan Desa Bontomatinggi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *