Online24, Pangkep- Dange, kuliner tradisional khas Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih menjadi favorit masyarakat hingga saat ini.
Kue berbahan dasar kelapa parut, tepung beras ketan, dan gula merah tersebut bahkan menjadi oleh-oleh wajib bagi para pelintas Jalur Trans Sulawesi.
Salah satu tempat yang dikenal menjual dange adalah Warung Dange 71 yang berada di Desa Cengkae, Kecamatan Mandalle.
Setiap harinya, warung ini ramai disinggahi pembeli yang ingin menikmati cita rasa khas dange yang masih dibuat secara tradisional.


Pemilik Dange 71, Lisa, mengatakan usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan selama belasan tahun.
“Usaha ini sudah belasan tahun. Awalnya dirintis oleh orang tua, kemudian saya lanjutkan sampai sekarang. Kami tetap mempertahankan cara pembuatan tradisional agar cita rasanya tidak berubah,” ujar Lisa.
Keunikan dange terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan cetakan dari tanah liat dan tungku kayu bakar.
Adonan yang telah disiapkan dipanggang hingga matang dan menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.
Selain varian original dengan gula merah, Dange 71 juga menyediakan rasa cokelat dan keju. Menurut Lisa, varian cokelat keju menjadi yang paling diminati pelanggan.
“Saat ini yang paling banyak dicari pembeli adalah rasa cokelat keju. Biasanya penjualan paling ramai saat akhir pekan, terutama hari Minggu,” katanya.
Dange dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yakni mulai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kotak. Tingginya minat pembeli membuat usaha tersebut mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap pekannya.
Salah seorang pembeli, Maulidya, mengaku hampir selalu menyempatkan diri membeli dange saat melintasi Kabupaten Pangkep.
“Kalau lewat Pangkep pasti mampir beli dange. Rasanya enak, gurih, dan masih terasa khas kue tradisional. Saya paling suka rasa original dan topping keju karena cocok dinikmati bersama keluarga,” ujar Maulidya.
Di tengah maraknya makanan modern, dange khas Mandalle tetap mampu mempertahankan eksistensinya.
Kuliner warisan turun-temurun ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi pelaku usaha, tetapi juga menjadi identitas kuliner Kabupaten Pangkep yang terus dijaga kelestariannya.











