Ayam Jantan dari Timur: Kisah Sultan Hasanuddin, Pahlawan Gowa yang Tak Gentar Melawan VOC

banner 468x60

Online24, Makassar — Dari tanah Gowa, Sulawesi Selatan, lahir seorang raja yang namanya kemudian menjadi simbol keberanian melawan kekuatan kolonial. Ia adalah Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16 yang dikenang karena kegigihannya menghadapi VOC Belanda.

Sultan Hasanuddin dikenal menolak monopoli perdagangan yang hendak diterapkan VOC di wilayah timur Nusantara. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat Perang Makassar 1666–1669 sebagai salah satu bentuk perlawanan Kerajaan Gowa terhadap VOC. Konflik itu berlangsung karena persaingan kepentingan perdagangan di kawasan timur Nusantara.

Ilustrasi Sultan Hasanuddin melawan VOC

Menolak Monopoli VOC

Pada abad ke-17, Makassar berkembang sebagai pusat perdagangan yang terbuka bagi pedagang dari berbagai wilayah. Kondisi tersebut bertentangan dengan kepentingan VOC yang berupaya memperkuat monopoli perdagangan.

Sultan Hasanuddin memilih mempertahankan kebijakan perdagangan dan kedaulatan Gowa.

Sikap tersebut kemudian membawa Gowa ke dalam konflik panjang dengan VOC.

Perang Makassar berlangsung sekitar empat tahun, dari 1666 hingga 1669. Dalam konflik tersebut, VOC mendapatkan dukungan dari Arung Palakka dari Bone.

 

Perjanjian Bongaya

Tekanan terhadap Gowa semakin kuat setelah berbagai pertempuran berlangsung.

Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya dengan VOC. Perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah hubungan Gowa dan VOC.

Namun, penandatanganan perjanjian tidak serta-merta mengakhiri perlawanan.

Pertempuran kembali terjadi dan Gowa terus memberikan perlawanan terhadap VOC.

Puncaknya terjadi pada 24 Juni 1669, ketika Benteng Somba Opu akhirnya jatuh setelah perlawanan panjang pasukan Gowa. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat peristiwa tersebut sebagai salah satu titik akhir Perang Makassar.

 

“Ayam Jantan dari Timur”

Kegigihan Sultan Hasanuddin kemudian membuatnya dikenal dengan julukan “Ayam Jantan dari Timur”.

Balai Bahasa Sulawesi Selatan mencatat bahwa Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16 yang dikenal karena kegigihannya melawan Belanda dan penolakannya terhadap monopoli perdagangan.

Julukan tersebut bukan sekadar sebutan. Ia menjadi simbol keberanian seorang pemimpin yang mempertahankan kepentingan kerajaannya ketika berhadapan dengan kekuatan VOC.

Kementerian Sosial juga mencatat Sultan Hasanuddin sebagai sosok yang berani melawan penjajah dan menetapkan bahwa ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973.

 

Ilustrasi, I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangape, Sultan Hasanuddin

Wafat dan Warisa

Sultan Hasanuddin wafat di Gowa pada 12 Juni 1670. Kajian yang terindeks dalam Garuda Kemendikbud menyebut ia wafat setelah memimpin Gowa pada masa perang melawan VOC dan meninggalkan warisan perjuangan yang kuat.

Berabad-abad setelah kepergiannya, nama Sultan Hasanuddin tetap hidup dalam ingatan masyarakat Sulawesi Selatan

Namanya digunakan untuk berbagai fasilitas publik, termasuk Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Kisahnya mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu berarti memenangkan setiap pertempuran.

Kadang, keberanian justru terlihat dari keputusan untuk mempertahankan prinsip ketika tekanan semakin besar.

Sumber utama: Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan – Perang Makassar 1666–1669, Kementerian Sosial RI, dan ANRI – Sejarah Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *