Sumur Tua 4 Meter Tak Pernah Kering Jadi Andalan 10 Ribu Warga Maros Hadapi Kemarau

banner 468x60

Online24,Maros – Kemarau panjang melanda Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kondisi ini diperparah dengan mengeringnya sejumlah sumber air, termasuk Bendung Lekopancing dan Bendung Batubessi. Warga pun mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

 

Salah satu wilayah yang terdampak yakni Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai. Pemerintah desa menyebut sekitar 10 ribu warga terdampak krisis air bersih akibat kemarau panjang.

 

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Desa Tenrigangkae menghadirkan solusi dengan memanfaatkan sebuah sumur tua yang berada di salah satu dusun. Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 4 meter dan disebut tidak pernah mengering selama puluhan tahun.

 

“Alhamdulillah, sumur tua kami ini kedalamannya kurang lebih 4 meter. Konon katanya sumur ini tergali beberapa puluh tahun yang lalu dan sampai hari ini tidak pernah kering,” kata Kepala Desa Tenrigangkae, H Wahyu Febri.

 

Menurut Wahyu, keberadaan sumur tersebut menjadi berkah bagi masyarakat. Bahkan ketika sejumlah bendungan di Maros mulai mengering, sumber air dari sumur tua itu masih tetap tersedia.

 

“Walaupun bendungan semua kering yang ada di Maros, tapi di sumur tua kami ini alhamdulillah tidak kering. Itulah yang kami manfaatkan untuk menyuplai warga,” ujarnya.

 

Air dari sumur tersebut kemudian dimanfaatkan melalui instalasi PAM mini. Namun, distribusi melalui jaringan pipa belum menjangkau seluruh wilayah desa.

 

Karena itu, pemerintah desa menyiapkan kendaraan untuk mengangkut air ke sejumlah dusun yang lokasinya cukup jauh dari sumber air.

 

“Kami menyiapkan kendaraan untuk menyuplai warga ke dusun-dusun yang jauh dari sumber air. Kami juga membuat titik air dengan penampungan di tempat-tempat itu,” jelasnya.

 

Warga juga diperbolehkan mengambil air secara langsung di titik-titik penampungan yang telah disiapkan pemerintah desa.

 

Wahyu mengatakan seluruh air yang didistribusikan kepada masyarakat diberikan secara gratis. Pemerintah desa berupaya agar warga tidak semakin terbebani akibat kondisi kekeringan.

 

“Yang kami antar ke masyarakat semua gratis. Kami berupaya sebesar mungkin bagaimana masyarakat tidak terbebani, supaya mereka menikmati hasil kerja kami, karena itulah tanggung jawab kami,” tuturnya.

 

Ia menambahkan, air dari sumur tua tersebut juga telah menjalani uji laboratorium dan dinyatakan dapat dikonsumsi masyarakat.

 

“Sudah dites, ada hasil uji lab dari provinsi,” katanya.

 

 

Selain persoalan air bersih, Wahyu juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.

 

Menurutnya, kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Warga diminta berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

 

“Saya selalu menyampaikan, baik di grup desa maupun di masjid, mengingatkan warga. Yang pertama di saat kemarau panjang ini adalah kebakaran. Hati-hati karena kebakaran terjadi di mana-mana,” katanya.

 

Wahyu berharap warga dapat memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bersama-sama dan tidak mengambil air secara berlebihan.

 

“Air ada, jadi air aman untuk Tenrigangkae. Saya minta kepada semua masyarakat berpartisipasi. Jangan saling menghujat, mari sama-sama menikmati,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *