Online24, Makassar – Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, mulai dari melindungi garis pantai hingga menjadi habitat berbagai biota. Pemahaman tentang fungsi ekosistem ini diperkenalkan kepada 159 siswa kelas VII SMP Islam Athirah Bukit Baruga melalui field trip sains di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, Kabupaten Takalar.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran IPA yang menghubungkan teori dengan kondisi lingkungan secara langsung. Siswa mempelajari keanekaragaman hayati dan konservasi pesisir melalui pengenalan ekosistem mangrove, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dalam konteks lingkungan yang nyata.
Pembelajaran ini mengangkat tema “Tadabbur Alam, Menemukan Hikmah, Menumbuhkan Kepedulian melalui Pendekatan Sains”. Selain memperluas pengetahuan tentang ekosistem, kegiatan ini diarahkan untuk membangun pemahaman bahwa keberlangsungan lingkungan bergantung pada keseimbangan hubungan antara makhluk hidup dan habitatnya.

Mangrove bukan sekadar vegetasi yang tumbuh di kawasan pantai. Ekosistem ini membantu mengurangi dampak gelombang dan abrasi, menyediakan tempat hidup bagi berbagai organisme, serta menyimpan karbon. Karena itu, pengenalan mangrove melalui pembelajaran sains dapat menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami pentingnya konservasi pesisir.
Ketua panitia, Masyuri, mengatakan pembelajaran di luar kelas menjadi bagian penting dalam mendukung pemahaman siswa, terutama pada mata pelajaran IPA.
“Ini penting bagi pembelajaran di luar kelas, terutama yang berhubungan dengan pelajaran IPA,” ujar Masyuri.

Melalui pengalaman langsung di lingkungan pesisir, siswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan objek pembelajaran di lapangan. Pendekatan ini membuat pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga pada kemampuan mengenali fenomena alam dan memahami keterkaitan di dalamnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Musdalifah, menekankan pentingnya tadabbur alam dalam membangun kesadaran siswa terhadap kebesaran ciptaan Tuhan. Pengenalan lingkungan, menurutnya, juga menjadi bagian dari pembentukan karakter agar siswa memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
PPLH Puntondo menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenal lingkungan pesisir, mangrove, dan ekosistem laut. Melalui kegiatan ini, materi keanekaragaman hayati tidak hanya dipelajari sebagai konsep dalam IPA, tetapi juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem.
Field trip sains tersebut memperkuat pendekatan pembelajaran kontekstual di SMP Islam Athirah Bukit Baruga. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan berkembang menjadi pemahaman ekologis, sehingga siswa tidak hanya mengenali fungsi alam, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.











