Online24, Makassar – Kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Prancis pada 17–18 Oktober 2026 tidak hanya memicu bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, tetapi juga menyebabkan penjarahan massal terhadap ribuan toko. Gerai fesyen mewah, supermarket, toko telepon seluler hingga usaha kecil menjadi sasaran perusakan.
Dilansir dari Euronews pada Senin (19/10/2026), lebih dari 2.000 toko diperkirakan terdampak penjarahan dan perusakan di berbagai wilayah Prancis. Kerugian ekonomi akibat kerusuhan tersebut ditaksir mencapai ratusan juta euro.
Aksi penjarahan terjadi di tengah demonstrasi yang awalnya menyoroti kenaikan biaya hidup dan memburuknya kondisi layanan publik, terutama sektor pendidikan. Namun, di sejumlah lokasi, aksi protes berubah menjadi kekerasan, pembakaran, dan perusakan fasilitas umum.
Gerai Merek Terkenal Ikut Dijarah
Di Paris, sejumlah gerai merek fesyen dan barang mewah dilaporkan mengalami kerusakan serta penjarahan. Toko Louis Vuitton, Dior, Burberry, Kenzo, Lacoste, dan Céline termasuk gerai yang menjadi sasaran atau terdampak aksi tersebut.
Selain toko fesyen, supermarket, toko telepon seluler, kafe, salon, dan sejumlah usaha kecil juga mengalami kerusakan. Para pelaku dilaporkan memecahkan kaca etalase, merusak pintu pengaman, serta mengambil barang dagangan dari dalam toko.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di kawasan Place de la République dan Boulevard Magenta, Paris. Sejumlah pemilik usaha mendapati etalase pecah, barang dagangan hilang, dan tempat usaha mereka rusak setelah kerusuhan.
Situasi serupa terjadi di sejumlah kota lain, termasuk Lyon dan Marseille, ketika kelompok perusuh menyerang bangunan serta tempat usaha di tengah bentrokan dengan aparat.
Puluhan Gerai Carrefour Diserang
Dampak kerusuhan juga dirasakan sektor ritel kebutuhan sehari-hari. CEO Carrefour, Alexandre Bompard, menyampaikan bahwa sekitar 50 gerai Carrefour menjadi sasaran perusuh, termasuk hampir 20 supermarket yang dijarah.
Bompard mengecam aksi kekerasan tersebut dan meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada para pedagang serta pekerja yang terdampak.
Menurut laporan yang dikutip Business Insider, sekitar 1.500 toko lainnya juga mengalami kerusakan. Biaya perbaikan diperkirakan melampaui 10 juta euro berdasarkan keterangan Bompard, meskipun estimasi kerugian keseluruhan dari pelaku usaha lain disebut jauh lebih besar.
Ribuan Orang Ditangkap
Kerusuhan tersebut mendorong aparat keamanan melakukan penindakan di berbagai wilayah. Euronews melaporkan pada Senin (19/10) bahwa lebih dari 2.500 orang telah ditangkap, sementara hampir 1.000 personel keamanan dilaporkan mengalami luka-luka.
Pemerintah Prancis menghadapi sorotan terkait kesiapan aparat dalam mengantisipasi meluasnya kekerasan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengakui adanya kekurangan dalam antisipasi dan pengerahan personel keamanan.
Presiden Emmanuel Macron menolak pengunduran diri Nuñez dan memintanya memperbaiki strategi pengamanan serta mengevaluasi kelemahan dalam perencanaan penanganan kerusuhan.
Kerusuhan ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Prancis, terutama dalam memulihkan keamanan, melindungi pelaku usaha, dan menangani dampak ekonomi yang ditimbulkan.
Sementara itu, para pemilik toko harus menghadapi kerugian akibat kehilangan barang dagangan, kerusakan bangunan, serta terganggunya aktivitas bisnis. Pemerintah dan otoritas setempat kini menghadapi tuntutan untuk mempercepat pemulihan sekaligus memastikan kejadian serupa tidak kembali meluas.











