Opini : Politisi Muda dan Kesabaran

Online24, Makassar – “Dalam sebuah pertandingan atau kompetisi sepakbola, kesabaran adalah kunci kemenangan,” ungkap ‘legenda hidup’ sepakbola Makassar, Syamsuddin Umar, dalam sebuah perbincangan ringan di sebuah kedai kopi di Kota Makassar, suatu pagi.

Mantan pemain PSM Makassar yang sukses meniti karir sebagai pelatih dan pernah dikirim PSSI berguru ilmu sepakbola di Brazil bersama Rusdy Bahalwan (legenda sepakbola Surabaya) ini menguraikan, banyak ‘young player’ suatu tim yang kerap bernafsu ingin cepat “cetak gol” karena tergoda selebrasi dan yel-yel pujian. Memang semua orang ingin menang. Namun ketidaksabaran itu awal kekalahan yang justru merugikan tim.

Belajar kisah ‘kesabaran’ dari Pak Syam, begitu ia biasa dipanggil, punya relevansi dalam konteks politik. Dalam setiap kontestasi dan kompetisi politik misalnya, banyak terdengar kabar dan informasi di media massa terkait kemunculan sejumlah sosok politisi muda. Bahkan mereka disebut-sebut sebagai ‘rising star’. Tapi sayangnya, dalam perjalanan waktu, beberapa diantara mereka perlahan meredup dan ada juga yang hilang jejak bak ditelan bumi.

Karena itu, tidak salah bila kemudian publik menganggap salahsatu faktor yang menyebabkan banyak politisi muda Sulawesi Selatan (Sulsel) yang “berguguran” alias layu sebelum berkembang, baik di pentas lokal apalagi nasional, karena karakter tidak sabaran. Serba instan, dan ingin cepat “cetak gol”(pinjam istilah Pak Syam).

Di hari Kamis 6 Februari 2020, bertepatan HUT ke-12 Partai Gerindra, tiba-tiba saya teringat cerita sosok politisi muda Sulawesi Selatan yang dimiliki partai besutan Prabowo Subianto itu. Namanya Andi Iwan Aras. Ada yang akrab menyapanya AIA (singkatan namanya,red), Andi Iwan, atau Iwan Aras. Selain anggota DPR-RI ia juga pengurus elit DPP Gerinda dan sekaligus Ketua DPD Gerindra Sulawesi Selatan pasca Pemilu 2019 lalu.

“Saya diminta dan didorong oleh partai untuk maju dan ikut dalam kontestasi Pilkada di Dapil saya. Bagaimana menurut kita?” tanya AIA meminta pendapat dan saran kepada beberapa orang tamunya yang bertandang ke ruang kerjanya. Saat itu AIA belum lama dilantik sebagai anggota DPR RI hasil Pileg 2014.

Belakangan saya dengar AIA memutuskan mengurungkan niatnya itu. Tidak tergoda. Entah apa alasannya. Namun dari beberapa orang terdengar kabar AIA lebih memilih melanjutkan pengabdiannya di parlemen. Pertimbanganya, masih muda, tak ada ‘green light’ keluarga, dan bersabar karena karir politiknya masih panjang.

“Andi Iwan salahsatu politisi muda Sulsel yang berkiprah di pentas politik nasional yang punya kesabaran dan ingin berproses dulu. Tidak kajili-jili (grasa-grusu,red) dan tidak kapujiang (suka dipuji,red). Saya kira bisa jadi contoh bagi politisi muda di daerah ini (Sulsel,red),” tutur Mulawarman, salahseorang mantan wartawan senior, penggiat sosial dan politik.

Begitu juga ketika AIA pertama kali diberi kepercayaan sebagai nakhoda DPD Gerindra Sulsel. Ia sabar melakukan konsolidasi internal, ditengah fragmentasi yang melanda tubuh partai yang dipimpinnya. Ia sadar mandat itu sebagai amanah sekaligus ujian bagi dirinya.

“Dia termasuk pimpinan parpol di daerah yang mudah diajak berkomunikasi dan siap menerima kritik dan saran. Dan yang paling penting, meski dipercaya sebagai jadi pemimpin dia tidak mentang-mentang dengan melakukan “bersih-bersih” pengurus, malah merangkul para senior sebagai pembina dan penasehat,” tambah Mulawarman yang mengisyaratkan sebagai politisi yang ibarat kacang tidak lupa kulitnya.

Tampilnya politisi muda seperti AIA makin ramai dibicarakan. Termasuk kemungkinan lahirnya “kekuatan baru” politik baru di daerah ini menyusul capaian tiga besar parpol tersebut.

Apalagi dengan didapuknya AIA menjadi Ketua DPD Gerindra Sulsel menjadi “amunisi’ tambahan. Sebab ia tidak datang kosong,tapi sudah kantongi “modal sosial” signifikan dalam dua Pemilu terakhir. Dengan begitu, otomatis pamor Gerindra pun ikut terdongkrak.

Sebelumnya mengutip hasil riset dan kajian dari Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC), tentang pertanyaan siapakah partai politik (parpol) dan sosok yang berpengaruh menentukan arah politik pilkada kabupaten/kota di Sulsel? NasDem,Golkar. Dan tambah satu lagi, Gerindra dengan sosok energik Andi Iwan Aras.

Kalkulasi politiknya, karena berdasarkan hasil Pileg 2019 lalu, selain dua kekuatan politik tersebut (Golkar dan Nasdem), maka Gerindra jadi penentu pada sejumlah Pilkada di Sulsel 2020, karena partai ini memiliki potensi perolehan kursi di DPRD kabupaten/kota yang cukup signifikan sebagai syarat pengusungan calon.

Bagi sebagian orang menanjaknya popularitas politisi muda ini dipanggung politik karena factor karakternya. Maksudnya? Ia tak berjarak dengan warga, tidak jaga image dan murah senyum. Ia menerobos sekat yang selama ini memisahkan pemimpin dan warga. Dan tak ragu berkomunikasi dengan bahasa rakyat. Apalagi baginya, jatuh bangun sebagai politisi dan bangkrut sebagai pengusaha itu biasa. “Tapi, jangan putus asa, karena Allah SWT menjamin ada jalan lain yang terbaik untuk kita,” ungkap Andi Iwan berfilosofi.

Selain itu, menurut Dr.Hasrullah,M.Si, Dosen Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), selama ini ia mengamati sosok AIA masuk dalam kategori politisi muda yang melakukan kerja-kerja politik yang efektif, tanpa gaduh dan polemik.

Bahkan ia merepresentasi klan politik baru dari kalangan anak muda dengan garis dominasi partai politiknya cenderung kuat. “Kehadiran politisi muda di panggung politik lokal maupun nasional perlu didorong karena diharapkan dari mereka bisa melakukan transformasi kultur politik yang mengedepankan kerja dan gagasan,” kata Hasrullah.