Hidup Sebatang Kara, Lelaki Tua di Halte Cendrawasih Luput dari Perhatian

Online24jam, Makassar, – Usai buka puasa, jalan Cendrawasih masih tampak sepi. Selain karena masih suasana PSBB juga karena rintik hujan mulai membahasi kota Daeng.

Di perpatan Jln Cendrawasih-Baji Minasa, tepat depan SDN. Cendrawasih, sebuah pemandangan memilukan dalam sebuah halte angkot yang sudah tak terurus. Seorang lelaki tua berusia 60an tertidur tanpa sehelai baju. Hanya berselimut sarung kumal.

Sepintas orang pasti mengira orang berkebutuhan khusus. Nyatanya dia adalah orang normal pada umunya. Hanya saja tidak punya keluarga dan tidak punya tempat tinggal.

“Saya sebenarnya warga sini, tapi sudah tidak ada yang peduli.” ujar Mursalim. Panggilan orangtua tersebut.

Semenjak pisah dengan anak dan istrinya, ia kini hidup luntang lantung tanpa tempat tinggal. Ia bahkan mengaku tidur dalam gudang bekas pabrik yang sudah lama kosong.

“saya tinggal di gudang. Cuma karena tidak ada minyak tanah, jadi saya tidur di halte ini.” keluhnya.

Minyak tanah itu untuk keperluan lampu kaleng atau untuk masak. Tapi beberapa hari ini tidak lagi bisa masak dan nyalakan lampu karena kehabisan minyak tanah dan tak punya uang sama sekali.

Jauh sebelum Pandemik Corona dan diberlakukannya PSBB, Mursalim mengaku tidak pernah dapat bantuan. Baik BLT, rastra atau terdaftar sebagai PKH.

“Tidak pernah ka saya dapat bantuan. Dari dulu ji tidak pernah ada.” ucapnya lirih.

Sehari-hari. Ia hanya dapat makan dari orang yang memberinya belas kasih di jalan raya. Setelah itu ia mengaku terpaksa puasa sepanjang hari. Padahal usianya sudah paruh bayah.

Saat ditemui Online24jam.com, kondisinya sangat lemah. Dia mengaku selalu luput dari pendataan karena dianggap bukan warga setempat. Semoga ada dermawan yang bersedia membantu atau mungkin sebaiknya di rumahkan di Panti Jompo agar lebih mudah dirawat.