Tiba di Roma, Jusuf Kalla Lakukan Pertemuan dengan Para Dewan Juri Zayed Award for Human Fraternity

Wakil Presiden RI ke-10 & 12 Jusuf Kalla, melakukan pertemuan dengan Para Dewan Juri Zayed Award for Human Fraternity di Roma-Italia, Kamis 22/10/2020 pagi waktu setempat

Online24, Roma – Wakil Presiden RI ke-10 & 12 Jusuf Kalla, melakukan pertemuan dengan Para Dewan Juri Zayed Award for Human Fraternity di Roma-Italia, Kamis 22/10/2020 pagi waktu setempat.

Para Dewan Juri tersebut selain Jusuf Kalla adalah Catherine Samba Panza – Former President Central of Arfican Republic (baju biru), Adama Dieng – Former United Nations Under Secretary General and Soecial Adviser of The Secretary General on The Prevention Genocide, Cardinal Dominique Mamberti – Supreme Tribunal of the Apolistic Signature, Michaelle Jean – 27th Governor General, Commander in Chief of Canada, dipimipin oleh Mohamed Mahmoud Abdulsalam – Secretary General of the Higher Committe of Human Fraternity.

Pertemuan ini merupakan yang kedua bagi para dewan juri dan panitia Zayed Award for Human Fraternity, membicarakan mengenai kriteria penilaian bagi calon nominator. Sebelumnya, pada pertengahan september yang lalu, dewan juri melakuan pertemuan virtual.

Menurut rencana, Seluruh Dewan Juri yang berjumlah 5 orang akan beraudiensi dengan Paus Fransiskus di Ruangan Pribadi Paus di Tahta Suci Vatikan, Jumat 23/10/2020 pagi waktu setempat. Dalam pertemuan tersebut diagendakan Para Dewan Juri dan Panitia Zayed Award for Human Fraternity, meminta pandangan Paus Frasiskus tentang Toleransi, Kemanusiaan dan Persaudaraan antar sesama, untuk dijadikan rujukan dewan juri menilai para nominator.

Direncanakan, Dewan Juri juga akan beraudiensi dengan Grand Seikh Al Azhar – Seikh Ahmad At -Thayyib di Cairo-Mesir, untuk meminta pandangan yang sama seperti pertemuan dengan Paus Fransiskus.

Sementara itu, Sebelumnya Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar, Dr Ahmed At-Tayyeb telah menandatangani dokumen bersejarah, Deklarasi Abu Dhabi, dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia di Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019).

Deklarasi yang disebut “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” itu berupaya mendorong untuk hubungan yang lebih kuat antara umat manusia.

Selain itu juga mempromosikan kepada hidup berdampingan antara umat beragama untuk melawan ekstremisme dan dampak negatifnya.

Dalam pidatonya sebelum menandatangani dokumen Deklarasi Abu Dhabi, Paus Fransiskus menyampaikan bahwa tindak kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan Tuhan tidak dapat dibenarkan.

Paus juga menyebut pentingnya nilai pendidikan dalam mengurangi konflik dan kekerasan di dunia.

Sementara Dr Ahmed At-Tayyeb menyerukan kepada umat Islam untuk melindungi komunitas Kristen di Timur Tengah dan untuk umat Islam di negara Barat agar dapat hidup berdampingan dan berintegrasi dengan lingkungan mereka.

“Anda adalah bagian dari bangsa ini.. Anda bukan minoritas,” ujar At-Tayyeb yang dikenal sebagai salah satu pemimpim Muslim terkemuka di dunia.

Salah satu isi dari dokumen Deklarasi Abu Dhabi tersebut, seperti dirilis pemerintah UEA, yakni seruan untuk menghapuskan penggunaan istilah minoritas yang disebut hanya akan melahirkan perasaan terisolasi dan rendah diri.

Juga menyerukan untuk hubungan baik antara Timur dan Barat yang tidak dapat disangkal, diperlukan untuk kedua pihak.

Dokumen tersebut juga menyerukan perlindungan terhadap hak perempuan, anak-anak, serta orang tua, kaum difabel, dan tertindas.

Hadir dalam upacara penandatanganan, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, perdana menteri dan wakil presiden Uni Emirat Arab, sekaligus penguasa Dubai.

Hadir pula Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota Abu Dhabi dan wakil panglima tertinggi angkatan bersenjata UEA, bersama dengan lebih dari 400 pemimpin keagamaan.

Dalam kesempatan yang sama, Sheikh Mohammed juga mempersembahkan piagam yang disebut “Penghargaan Persaudaraan Manusia” kepada Paus Fransiskus dan juga Imam Besar At-Tayyeb.

Penghargaan diberikan kepada At-Tayyeb sebagai pengakuan atas ketegasannya dalam membela moderasi, toleransi, nilai-nilai global, serta penolakannya terhadap ekstremisme radikal.

Sedangkan untuk Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai pendorong kehidupan bertoleransi dan mengesampingkan perbedaan untuk mengajak pada perdamaian dan persaudaraan antara umat manusia. (*)