Warga Desa Labuaja Maros Rayakan Natal Dengan Toleransi

dprd-makassar

Online24, Maros – Ada sebuah kampung di desa labuaja, kecamatan cenrana, kabupaten maros, sulawesi selatan dimana warganya berbeda keyakinan dalam satu keluarga namun tetap rukun dan harmonis utamanya pada saat merayakan hari besar seperti perayaan natal dan idul fitri.

warga disini sudah berpuluh – puluh tahun berbeda keyakinan dan perbedaan tersebut sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, seperti pada saat perayaan natal misalnya, seluruh jemaat melaksanakan ibadah di gereja, bagi warga yang muslim mereka ikut serta mengamankan gereja bersama petugas tni dan kepolisian.

di wilayah pelosok maros ini sudah berpuluh-puluh tahun, umat nasrani hidup rukun dan harmonis di tengah masyarakat yang mayoritas muslim, walaupun mereka berbeda keyakinan, mereka tidak pernah ada konflik sara ataupun ada perpecahan sekalipun.

bicara soal toleransi antarumat beragama, warga di desa ini memang sudah mempraktikkannya secara turun-temurun. hampir seluruh rumah tangga, perbedaan keyakinan sudah menjadi hal yang lumrah.

seperti keluarga andarias tangke (70) dan hamsiah (65) pasangan yang sudah menikah selama 40 tahun lebih ini hidup rukun dalam satu keluarga meski berbeda keyakinan/ mereka pun sudah dikaruniai tiga anak. mereka tidak pernah memaksakan agama mana yang akan dipilih anak-anaknya, anak pertama mereka memeluk agama islam, sedangkan dua anak lainnya memeluk agama kristen.

” sudah hampir 50 tahun saya sama sama dengan bapak hidup berbeda keyakinan, suami saya nasrani dan saya islam. jika ada perayaan besar seperti lebaran dan natal kami juga ikut merayakannya bersama “. jelas hamsiah

lanjut dikatakan hamsiah, saat perayaan natal dirinya bersama anak dan saudaranya yang muslim ikut membantu membuat dan menyajikan makanan untuk para tamu dari suaminya, begitu pun saat lebaran atau maulid, keluarganya yang kristen juga ikut membantu.

” di keluarga kami saat perayaan natal kami yang muslim mempersiapkan semuanya seperti membuat makanan dan menyajikannya untuk para tamu, begitu juga sebaliknya saat saya merayakan lebaran, suami dan anak yang nasrani ikut membantu saya dan kami merayakannya bersama sama dengan rukun “. ujar hamsiah

sementara itu kepala desa labuaja asdar mengatakan perbedaan keyakinan dalam satu keluarga di desanya merupakan hal yang lumrah dan keberadaan tersebut sudah turun temurun tanpa adanya gesekan.

” keberadaan umat kristiani di wilayah kami ini sudah turun temurun dari masa penjajahan, ada banyak warga dalam satu keluarga mereka berbeda keyakinan, ada yang menganut agama islam ada pula kristen dan mereka hidup rukun”. ucap kepala desa labuaja asdar.

disampaikan kepala desa labuaja,hasdar selepas ibadah di gereja, seluruh jemaat gereja kemudian berkeliling kampung dari rumah ke rumah, tidak hanya rumah umat kristiani saja, beberapa rumah warga muslim juga dikunjungi dengan saling berucap selamat, mereka hidup seolah tidak ada sekat keyakinan.

” rutinitas setelah ibadah jemaat disini akan berkeliling kampung dari rumah ke rumah, karena masa pandemi covid, warga kami merayakan natal dengan pendisiplinan protokol kesehatan yang ketat, silaturahmi tetap dilakukan namun dengan mengedepankan protokol covid”. tutup asdar

(Achmad)