Tengkes Itu ”Stunting”

Regional2 Views
banner 468x60

Online24, Makassar – Dari semua media yang ada di Indonesia, Kompas menjadi referensi utama saya dalam menulis. Selalu ada kepuasan usai membaca tulisan di kompas, baik cetak, website, maupun e-Paper, termasuk kompas.id yang saat ini mudah saya akses, karena memang berlangganan.

Kompas banyak menyajikan artikel yang menarik. Wacana yang diangkat pun selalu menjadi perbincangan hangat warganet alias menjadi trending topik di lini masa media sosial dengan berbagai platform digital. Pokoknya, semua artikel di kompas.id selalu mencerahkan.

Membaca kompas seperti kita berada pada sebuah ruang yang sangat edukatif. Di mana kita fokus membaca sambil belajar. Ibaratnya, kita berada pada sebuah kelas yang diisi para pakar dari berbagai bidang. Sebut saja bahasa, agama, politik, kesehatan dan olahraga.

Soal mencari gagasan, merumuskan tema headline, mengolah data tematik, sampai kepada menentukan judul, Kompas memang jagonya. Pada edisi 10 April 2023, Kompas mengangkat tema besar terkait stunting. Apalagi stunting menjadi prioritas pemerintah saat ini.

Nah, saat ini, Pemerintah Republik Indonesia tengah berupaya untuk menanggulangi prevalensi tengkes secara komprehensif dan menyeluruh, dengan target penurunan 14% di 2024. Namun, ada yang menarik. Kompas acap kali menulis kata “tengkes”, alih-alih stunting.

Ya, tengkes dan stunting sejatinya adalah dua lema yang memiliki makna sama. Satu adalah kata dari bahasa Indonesia (tengkes), satunya lagi adalah istilah asing (stunting). Yang disebut terakhir adalah kata yang sudah tertanam kuat di mulut dan telinga orang Indonesia.

Kata “tengkes” tentu masih asing di telinga orang awam, kecuali bagi mereka yang selalu mengutak-atik “kitab Suci” KBBI daring untuk memastikan semua kata tertulis sesuai kaidah dan pedoman bahasa Indonesia, karena sahabat terbaik dalam menulis adalah KBBI daring.

Di dalam KBBI daring, kata “tengkes” bermakna kerdil (tidak dapat tumbuh menjadi besar); kecil (jika dibandingkan dengan pasangannya dan sebagainya). Sementara kata “stunting” tidak ditemukan dalam daftar KBBI dikarenakan kata tersebut masuk ke dalam istilah asing.

Mengingat “tengkes” masuk ke dalam daftar KBBI, maka “stunting” menjadi istilah asing yang apabila digunakan menulis, apa pun jenis tulisannya, maka harus dicetak miring atau diberi tanda kutip. Jadi, pilihannya cuma dua, tengkes versi Indonesia, atau stunting versi asing.

Lagi-lagi media Kompas menjadi rujukan saya dalam melihat dan mempelajari konstruksi sebuah tulisan, baik tulisan dalam bentuk berita maupun opini, karena  aturannya jelas bahwa huruf dicetak miring jika kata atau kalimat tersebut berasal dari bahasa asing dan daerah.

Mulai sekarang, tulisan “stunting” dimiringkan untuk penulisan di spanduk, baligho, poster, ex-banner atau pun di media promosi lainnya. Namun, jika ingin menulis sesuai pemaknaan dalam KBBI, maka tulislah “tengkes”, tanpa harus dimiringkan atau diberi tanda kutipan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *