Dihadiri 352 Guru TK, Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka IGTKI-PGRI Luwu Utara Sukses Besar

Dukcapil Makassar

Online24, Makassar – Pelaksanaan Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) oleh Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Kabupaten Luwu Utara, Sabtu (20/5/2023), di Aula La Galigo Kantor Bupati, sukses besar.

Sebanyak 352 guru TK se-Luwu Utara hadir memadati ruangan aula yang dapat menampung 300 – 400 tempat duduk. Membludaknya peserta workshop mengindikasikan bahwa Workshop IKM ini sangat urgen bagi para guru TK untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Kehadiran Fatmawaty Yusuf, S.H., M.Pd., sebagai narasumber makin menambah daya tarik Workshop IKM. Fatmawaty adalah Praktisi Pendidikan, Konsultasi Pendidikan, Fasilitator Sekolah Penggerak, Asesor BAN PAUD dan PNF Narasumber berbagai praktik baik.

Pun kehadiran Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, yang membuka kegiatan workshop, juga makin menambah semarak kegiatan Workhop IKM yang diikuti 149 lembaga TK Se-Kabupaten Luwu Utara. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Misbah, juga turut hadir.

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, dalam sambutannya mengapresiasi IGTKI-PGRI Luwu Utara atas terlaksananya Workshop IKM ini, karena workshop yang dilakukan adalah workshop yang membahas dua hal penting, yaitu kurikulum merdeka dan merdeka belajar.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang kita lakukan hari ini. Kurikulum merdeka ini digagas untuk beberapa hal, di antaranya adalah bagaimana mengejar ketertinggalan pendidikan kita akibat pandemi COVID-19. Saya kira ini semangat awalnya,” kata Indah Putri Indriani.

Dijelaskan Indah bahwa dalam kurikulum merdeka, anak-anak harusnya didorong untuk lebih kreatif, bisa berinovasi, tidak dibatasi ruang geraknya dengan hanya menulis apa yang ada di buku. Karena menurut dia, pendidikan itu hakekatnya adalah memerdekakan

“Anak-anak tidak lagi dibatasi dengan maunya kita, tetapi sudah mengikuti apa yang menjadi minat mereka. Inilah yang dinamakan kurikulum merdeka,” jelasnya. Indah menambahkan, kurikulum merdeka tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga para guru.

“Yang perlu kita sadari adalah, bukan hanya peserta didik yang dimerdekakan, tetapi guru juga harus dimerdekakan. Makanya kita perlu memahami apa itu kurikulum merdeka,” imbuhnya. Ia pun mengajak meninggalkan metode pembelajaran yang tidak memerdekakan.

“Jadi, say goodbye sama metode pembelajaran yang menyebabkan, guru dan siswanya tidak merasakan merdeka dalam pembelajaranatau kurang berkreasi,” ucap Indah, seraya mengajak para guru untuk tidak mengerdilkan pemikiran anak-anak didik mereka di sekolah.

Sebelumnya, Ketua IGTKI-PGRI Luwu Utara, Wahyuni Hamarong, mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan dunia pendidikan adalah kehadiran SDM yang andal dalam menyikapi setiap perubahan zaman, termasuk perubahan kurikulum yang digaungkan pemerintah.

“Kita ketahui bahwa kurikulum merdeka adalah bagian dari program merdeka belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang diharapkan terimplementasi di setiap satuan pendidikan, termasuk taman kanak-kanak,” kata Wahyuni.

Dijelaskannya, IKM adalah sebuah transformasi, penyempurna kurikulum sebelumnya karena perubahannya mengikuti perkembangan zaman. “Guru dituntut merancang pembelajaran sesuai perkembangan zaman. Semoga para peserta dapat mengikuti workshop ini dengan baik, sehingga kita bisa memperoleh pengetahuan tentang IKM,” pungkasnya.

Pemkot Makassar