BBVet Maros Dukung Hilirisasi Peternakan, Fokus Ekosistem Perunggasan 2026

Nasional, News1263 Views
banner 468x60

Online24,Maros— Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros mencatat telah melakukan pengujian terhadap 101.834 sampel hewan sepanjang tahun 2025.

 

Pengujian ini dilakukan untuk memperkuat pengendalian penyakit hewan sekaligus menjamin keamanan produk hewan di wilayah Indonesia Timur.

 

Kepala BBVet Maros, drh Agustia, mengatakan kegiatan tersebut didukung oleh 107 personel, termasuk 26 dokter hewan, yang bekerja melalui fungsi pengujian laboratorium, surveilans, investigasi, serta pendampingan teknis di daerah.

 

“Sepanjang 2025, kami melakukan pengujian sekitar 101 ribu sampel, baik aktif maupun pasif, yang berasal dari delapan provinsi dan 102 kabupaten/kota wilayah kerja BBVet Maros,” ujar Agustia.

 

Dari total sampel tersebut, 48.834 merupakan sampel aktif dan 53.000 sampel pasif. Sampel aktif diperoleh melalui kegiatan pengambilan langsung di lapangan, sementara sampel pasif berasal dari hewan yang dibawa pemiliknya ke BBVet Maros untuk diperiksa.

 

Agustia menyebut, Kabupaten Bone menjadi penyumbang sampel terbesar, dengan hampir sepertiga dari total pengujian. Menurutnya, Bone merupakan wilayah strategis dalam pengendalian penyakit hewan di Sulawesi Selatan.

 

“Jika Bone bisa diamankan, maka Sulawesi Selatan relatif aman, dan dampaknya akan terasa di wilayah lain,” katanya.

 

Berdasarkan jenis hewan, sampel yang diuji didominasi oleh sapi sebanyak 60.050 sampel, disusul ayam 21.718 sampel, babi 2.174 sampel, kerbau 464 sampel, dan kuda 193 sampel.

 

Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan populasi ternak serta kedekatan epidemiologi melalui kegiatan surveilans dan investigasi.

 

Selain itu, BBVet Maros juga melakukan investigasi penyakit hewan di berbagai daerah, meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Maluku Utara.

 

Hasil pengujian menunjukkan tren penurunan kasus sejumlah penyakit hewan strategis dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Kasus rabies turun dari 121 kasus pada 2024 menjadi 69 kasus pada 2025. Penyakit jembrana menurun dari 25 kasus menjadi 6 kasus, sementara brucella melitensis dari 6 kasus menjadi 2 kasus.

 

Untuk avian influenza pada ayam, kasus masih ditemukan meski mengalami penurunan, dari 96 kasus pada 2024 menjadi sekitar 84 kasus pada 2025.

 

“Penyakit yang kami temukan kami kategorikan sebagai penyakit yang berdampak ekonomi dan penyakit yang berpotensi mengancam kesehatan manusia,” jelas Agustia.

 

Terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sepanjang 2025 ditemukan sekitar 2.000 kasus yang tidak terjadi secara bersamaan. Kasus tersebut tersebar di sekitar 120 titik lokasi dan muncul secara bergantian, dengan wilayah Toraja Utara dan Toraja masih menjadi daerah dominan.

 

Agustia menilai penurunan kasus penyakit hewan terjadi karena tindak lanjut cepat dari dinas peternakan daerah terhadap rekomendasi teknis BBVet Maros, seperti pengobatan ternak sakit dan vaksinasi ternak sehat.

 

“Rekomendasi teknis kami ditindaklanjuti dengan baik di lapangan. Itu terbukti menurunkan kasus, baik PMK, rabies, maupun avian influenza,” katanya.

 

Memasuki tahun 2026, BBVet Maros akan mendukung program hilirisasi peternakan, khususnya pengembangan ekosistem perunggasan terpadu untuk produksi telur, daging, hingga produk olahan.

 

“Ke depan, yang ingin kami jaga adalah jumlah dan kualitas ternak, terutama ayam, agar ketahanan pangan dan keamanan produk hewan tetap terjamin,” tutup Agustia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *