Online24,Maros – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bantimurung Maros mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2024. Perusahaan pelat merah itu berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 928 juta dan menyerahkannya kepada Pemerintah Kabupaten Maros.
Penyerahan laporan keuangan tersebut dilakukan dalam Rapat Kuasa Pemilik Modal yang dihadiri langsung oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, bersama Direktur PDAM, Muh Shalahuddin, di ruang rapat Sekda Maros, Selasa (5/5/2026).
“Kami menyerahkan laporan keuangan hasil audit Kantor Akuntan Publik kepada Pak Bupati. Tahun ini, PDAM Maros kembali mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan berhasil memperoleh laba Rp 928 juta,” ujar Shalahuddin.
Ia menjelaskan, laba tersebut merupakan keuntungan bersih setelah pajak. Angka itu mengalami lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai sekitar Rp 380 juta.
“Kalau persentase kenaikannya mencapai 200 persen dari tahun sebelumnya,” jelasnya.
Menurut Shalahuddin, peningkatan laba dipicu oleh kebijakan penyesuaian tarif yang mulai berlaku sejak 2024. Meski tidak terlalu besar, kontribusi dari iuran pelanggan dinilai mampu mendorong pendapatan perusahaan.
“Walaupun nilainya tidak signifikan, tapi alhamdulillah sudah bisa meningkatkan laba kami,” katanya.
Meski demikian, pihak PDAM belum menetapkan besaran deviden yang akan disetor ke pemerintah daerah. Sesuai aturan, pembagian laba maksimal 35 persen dari laba bersih.
“Kalau mengacu aturan, kisarannya sekitar Rp 300 jutaan. Tapi itu kembali ke keputusan Pak Bupati,” tambahnya.
Ke depan, PDAM Maros juga menyiapkan pengembangan kapasitas produksi air bersih melalui peningkatan di tiga Instalasi Pengelolaan Air (IPA), yakni Bantimurung, Pattontongan, dan Tanralili.
Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah peningkatan kapasitas IPA Bantimurung dari 120 liter per detik menjadi 180 liter per detik.
“Sekarang sementara dalam proses. Pemerintah daerah juga sudah membantu pembangunan sarana seperti rumah pompa dan genset,” ujarnya.
Pengembangan ini diharapkan dapat memperluas distribusi air bersih, khususnya ke wilayah Bontoa dan meningkatkan pelayanan di kawasan perkotaan.
Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran untuk pengembangan tiga IPA tersebut diperkirakan mencapai Rp 75 miliar, termasuk pembangunan jaringan dan booster di wilayah Maros Baru.
“Perencanaan itu juga mencakup pengembangan jaringan di Bontoa dan pembangunan booster seperti yang sudah ada,” pungkasnya.






