Mimpi Pesepak Bola Kamerun Berakhir di Sidrap, Dari Turnamen Tarkam ke Proses Deportasi

banner 468x60

Online24, Sidrap – Stadion Ganggawa di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) semestinya menjadi panggung bagi Georges Decauch Jorel Manga Messe untuk menunjukkan kualitasnya sebagai pesepak bola. Namun, bagi pemain asal Kamerun tersebut, pertandingan di ajang Sidrap Cup justru menjadi akhir dari perjalanan kariernya di Indonesia.

Tak lama setelah laga berakhir, Georges diamankan petugas Imigrasi yang sebelumnya telah memperoleh informasi mengenai status keimigrasiannya.

Sejak saat itu, impiannya meniti karier sebagai pemain profesional berubah menjadi persoalan hukum yang berujung pada proses deportasi.

Perjalanan Georges ke Indonesia berawal dari keinginan mengikuti seleksi di klub sepak bola profesional. Akan tetapi, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena kompetisi sedang memasuki masa jeda sehingga kesempatan untuk mengikuti seleksi belum tersedia.

Di tengah penantian itu, ia memilih tetap aktif bermain dengan mengikuti turnamen sepak bola antarkampung (tarkam). Keputusannya membawanya tampil di Sidrap Cup, sebuah kompetisi yang selama ini dikenal sebagai ajang bergengsi di tingkat daerah.

Kasus tersebut sekaligus membuka perhatian terhadap fenomena meningkatnya keterlibatan pemain asing dalam turnamen tarkam di Sulawesi Selatan.

Selama ini sorotan publik lebih banyak tertuju pada persaingan antartim, perekrutan pemain menjelang pertandingan, maupun besarnya hadiah yang diperebutkan.

Kini, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing yang berpartisipasi dalam kompetisi lokal, khususnya terkait kepatuhan terhadap aturan keimigrasian.

Bagi masyarakat Sidrap, peristiwa ini menjadi kejadian yang tidak lazim. Jarang ada turnamen sepak bola tingkat daerah yang berakhir dengan penindakan terhadap seorang pemain asing sesaat setelah pertandingan selesai digelar.

Setelah diamankan, Georges dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi Makassar untuk menjalani proses administrasi sambil menunggu pemulangannya ke Kamerun. Hingga kini, pelaksanaan deportasi masih menunggu penyelesaian biaya perjalanan.

Di tengah euforia perebutan gelar juara Sidrap Cup, nama Georges justru menjadi perhatian karena kisah yang berbeda.

Ia datang ke Indonesia dengan harapan meraih kontrak sebagai pesepak bola profesional. Namun, perjalanan itu berakhir bukan dengan pencapaian di lapangan, melainkan dengan proses hukum keimigrasian yang mengakhiri langkahnya di tanah air. (GilRam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *