Online24jam, Makassar,– Di saat banyak film berlomba mengejar pasar domestik, film independen Solata justru lebih dahulu mendapat pengakuan dari dunia internasional. Setelah meraih penghargaan pada “Golden FEMI Film Festival” di Bulgaria pertengahan 2026, film yang mengangkat isu pendidikan di pedalaman Toraja itu kini bersiap melanjutkan perjalanan menuju festival-festival bergengsi dunia dengan target menembus Academy Awards (Piala Oscar).
Film karya sutradara sekaligus produser Ichsan Persada, tersebut juga telah menggelar tur pemutaran spesial di sejumlah negara Eropa Timur, di antaranya Slovakia, Hungaria, dan Turki. Namun, di Indonesia, film ini belum memperoleh apresiasi yang sepadan meski menuai respons positif dari kalangan akademisi, guru, masyarakat Sulawesi Selatan, hingga generasi muda.
“Perjuangan membuat film idealis memang luar biasa. Apalagi ketika berhasil menembus pasar internasional dan mendapat perhatian dari KBRI maupun KJRI di luar negeri,” kata Ichsan.
“Solata” merupakan film panjang pertama yang disutradarai Ichsan, sekaligus film ke-10 yang diproduksinya. Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri tanpa dukungan anggaran pemerintah. Dengan biaya sekitar 100 ribu Euro atau setara Rp1,6 miliar, film ini dinilai mampu menghadirkan kualitas produksi yang mengundang kekaguman penonton internasional. Sebagai perbandingan, biaya produksi film di Eropa umumnya mencapai 850 ribu hingga 2,5 juta Euro.
Dirilis di bioskop Indonesia pada November 2025, Solata kemudian diundang mengikuti Sofia Menar Film Festival di Bulgaria setelah mendapat perhatian dari KBRI Sofia. Selanjutnya, film ini dijadwalkan diputar pada Asian Plus Three Film Festival di Praha, Republik Ceko, pada 9 September mendatang, serta diusulkan mengikuti Tirana International Film Festival di Albania yang berstatus Oscar Qualifying, membuka peluang menuju nominasi Academy Awards.
Mengangkat kisah seorang relawan guru dari Jakarta yang berjuang menghidupkan kembali sekolah di pedalaman Olan, Toraja, Solata menyoroti persoalan akses pendidikan, tingginya angka anak putus sekolah, hingga kesejahteraan guru honorer. Bagi penonton Indonesia, film ini dipandang sebagai kritik sosial terhadap dunia pendidikan. Sementara di luar negeri, cerita tersebut diterima sebagai kisah universal tentang kehilangan, kegagalan, harapan, dan perjuangan manusia.
Ichsan menilai Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar perfilman terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, India, dan China. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum didukung ekosistem industri yang memadai.
“Kita masih membutuhkan komisi film daerah yang terintegrasi, regulasi yang jelas, serta skema insentif seperti cash rebate yang diterapkan sejumlah negara. Itu penting agar industri film Indonesia semakin kompetitif di tingkat global,” ujarnya.
Bagi Ichsan, perjalanan Solata menjadi bukti bahwa film independen Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Di balik berbagai keterbatasan, karya yang lahir dari kegelisahan terhadap kondisi pendidikan nasional justru berhasil menyampaikan pesan universal yang diterima lintas negara, sekaligus menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap sineas lokal merupakan investasi penting bagi masa depan industri kreatif Indonesia.





