PAM Mini Jadi Jurus Desa Tenrigangkae Atasi Krisis Air Bersih

banner 468x60

Online24,Maros- Pemerintah Kabupaten Maros mendorong inovasi desa dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di tengah musim kemarau panjang. Salah satunya melalui pengelolaan PAM Mini oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenrigangkae, Kecamatan Mandai.

Bupati Maros AS Chaidir Syam mengatakan PAM Mini menjadi solusi alternatif bagi masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan air dari PDAM.

“PAM Mini ini dikelola oleh BumDes desa dan menjadi salah satu inovasi dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih,” kata Chaidir Syam.

Selama ini, kebutuhan air bersih warga Tenrigangkae bergantung pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Patontongan. Namun, kapasitas jaringan tersebut belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan warga, terutama untuk pemasangan sambungan baru.

Kondisi tersebut kemudian mendorong pemerintah desa bersama masyarakat mencari sumber air alternatif. Mereka memanfaatkan sumur dengan debit besar yang disebut tidak pernah mengalami kekeringan.

Pembangunan PAM Mini dilakukan setelah melalui musyawarah desa. Sistem tersebut kini mulai dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Saat ini, PAM Mini telah melayani sekitar 158 rumah. Jumlah tersebut masih jauh dari potensi keseluruhan pelanggan yang diperkirakan mencapai hampir 800 rumah di Desa Tenrigangkae.

Pemerintah desa menargetkan cakupan layanan PAM Mini terus diperluas hingga dapat menjangkau seluruh wilayah desa.

Untuk sementara, warga belum dikenakan biaya penggunaan air karena layanan tersebut masih dalam tahap uji coba.

Pemerintah desa kini menyiapkan Peraturan Desa (Perdes) yang nantinya mengatur tarif penggunaan air. Tarif tersebut diharapkan dapat mendukung biaya pemeliharaan sekaligus menjaga keberlanjutan layanan PAM Mini.

Andalkan JIAT untuk Pertanian

Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, Desa Tenrigangkae juga memanfaatkan jaringan irigasi air tanah (JIAT) untuk membantu sektor pertanian.

Jaringan irigasi tersebut didukung sumur bor bantuan pemerintah pusat. Saat ini, air dari jaringan tersebut telah mampu mengairi sekitar 2 hektare lahan sawah.

Potensi pengembangannya masih cukup besar. JIAT tersebut diproyeksikan dapat mengairi hingga 10 hektare lahan. Jika infrastruktur terus ditingkatkan, cakupannya bahkan berpotensi mencapai 30-40 hektare, termasuk menjangkau wilayah desa sekitar Tenrigangkae.

Di tengah musim kemarau, kondisi pertanian di Kecamatan Mandai disebut relatif aman. Para petani telah melakukan antisipasi dengan mempercepat masa tanam berdasarkan informasi cuaca.

Pemkab Maros juga menyiagakan satuan tugas (satgas) pompanisasi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan pada lahan pertanian.

Petani yang membutuhkan bantuan pengairan dapat melapor melalui petugas penyuluh lapangan (PPL). Satgas kemudian akan membawa pompa ke lokasi yang memiliki sumber air potensial untuk membantu mengairi lahan pertanian.

Selain pompanisasi, pemerintah juga terus mendorong bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat guna mendukung produktivitas petani di tengah kondisi kemarau.

Inovasi PAM Mini dan pemanfaatan JIAT tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah desa dan masyarakat Tenrigangkae untuk menghadapi keterbatasan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *