Menuju Cashless Society: Kala Masyarakat Sulsel Mulai Nyaman Bepergian Tanpa Dompet

banner 468x60

Online24, Makassar – Peta keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) tengah mengalami pergeseran ke arah cashless society yang masif. Masyarakat kini semakin terbiasa berpergian tanpa dompet fisik, beralih penuh ke ekosistem pembayaran nontunai. Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat lonjakan luar biasa pada adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai pilar utama transformasi digital di wilayah ini.

Bukan sekadar tren musiman, digitalisasi sistem pembayaran di Sulsel telah menjadi bagian dari gaya hidup harian. Data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel menunjukkan indikator pertumbuhan yang sangat impresif. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda menyampaikan bahwa pada Juni 2026, volume transaksi digital menggunakan QRIS menyentuh angka 28,8 juta transaksi.

“Angka ini melonjak tajam sebesar 139,6 persen secara Year-on-Year (YoY) atau dibandingkan periode yang sama tahun lalu.” ujar Rizki saat menghadiri kegiatan Pelatihan Wartawan Sulawesi Selatan, Kamis 27 Agustus 2026 di Bali.

Melesatnya frekuensi transaksi ini secara otomatis mendongkrak perputaran uang digital. Nominal transaksi bulanan pada periode tersebut berhasil meningkat ke angka Rp2,57 triliun, atau tumbuh sebesar 83 persen. Perputaran dana yang besar ini menjadi bukti nyata bahwa digitalisasi mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Sulsel tetap kuat dan tangguh menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Rizki menambahkan bahwa Bank Indonesia Sulsel mencatat pertumbuhan basis pengguna (user base) kini telah mencapai 1,48 juta pengguna, yang artinya meningkat 17,47 persen. Akselerasi ini didorong oleh perluasan ekosistem yang masif.

“Sisi pasokan juga diperkuat dengan perluasan titik penyerapan yang kini menyentuh 1,46 juta merchant atau tumbuh sekitar 16,5 persen.” ujarnya.

Ada fenomena menarik di balik angka-angka tersebut. Lonjakan volume transaksi yang jauh melampaui pertumbuhan jumlah pengguna baru mengindikasikan terjadinya dampak keterikatan. Artinya, masyarakat Sulsel tidak lagi sekadar memiliki akun untuk coba-coba. Mereka sudah merasa nyaman, percaya, dan rutin menjadikan QRIS sebagai instrumen pembayaran utama dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Peningkatan daya guna ini membuktikan bahwa inklusi keuangan di Sulsel tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga kualitas.

Fenomena ini turut diamati oleh Guru Besar bidang Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Anas Iswanto Anwar, S.E., M.A., CWM., CRBC. Menurutnya, lonjakan transaksi QRIS di Sulawesi Selatan bukan lagi sekadar perubahan alat pembayaran, tetapi sudah menunjukkan perubahan perilaku ekonomi masyarakat.

“Menurut saya, istilah cashless society cukup tepat, tetapi jangan dimaknai sebagai masyarakat yang sama sekali tidak menggunakan uang tunai. Yang sedang terjadi adalah pergeseran menuju less-cash society: uang tunai masih digunakan, tetapi semakin banyak transaksi sehari-hari berpindah ke pembayaran digital,” ungkap Prof. Anas kepada jurnalis online24

Beliau menambahkan bahwa dampak positif perubahan perilaku ini sangat besar bagi efisiensi masyarakat. “QRIS membuat biaya transaksi menjadi lebih rendah. Tidak perlu mencari uang pas, membawa banyak uang tunai, atau pergi ke ATM hanya untuk memperoleh uang cash. Transaksi menjadi lebih cepat dan praktis,” tuturnya.

Namun, di balik segala kemudahan tersebut, Prof. Anas mengingatkan bahwa era baru ini membawa tantangan tersendiri bagi konsumen. Menurutnya, cashless society bukan hanya persoalan teknologi pembayaran, melainkan juga persoalan literasi keuangan yang mendasar.

“Masyarakat perlu mulai membangun digital financial discipline (disiplin keuangan digital): rutin memeriksa riwayat transaksi, membuat batas pengeluaran, dan tidak menyamakan saldo rekening atau dompet digital dengan ‘uang yang bebas dibelanjakan’,” tegas Prof. Anas yang juga menjabat sebagai Komisaris Bank Unhas.

Catatan penting mengenai disiplin finansial ini sangat sejalan dengan komitmen Bank Indonesia Sulsel. Aspek pelindungan konsumen menjadi pilar krusial yang terus dikawal ketat oleh BI Sulsel. Edukasi mengenai keamanan bertransaksi digital serta literasi keuangan terus digalakkan guna mengantisipasi risiko kejahatan siber sekaligus mencegah perilaku konsumtif yang tidak terukur.

Di sisi lain, BI Sulsel juga tetap berkomitmen menjaga kepercayaan publik terhadap layanan sistem pembayaran tunai melalui pengelolaan uang Rupiah yang andal. BI memastikan ketersediaan uang layak edar di seluruh pelosok Sulsel. Hal ini penting agar masyarakat memiliki kebebasan memilih metode transaksi yang paling aman dan nyaman bagi mereka.

Melalui sinergi perluasan ekosistem digital yang inklusif, pemeliharaan sistem tunai yang kuat, serta penguatan pelindungan konsumen yang responsif, Bank Indonesia Sulawesi Selatan sukses membangun fondasi ekonomi daerah yang aman, tepercaya, dan siap menghadapi masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *