Online24, Makassar – Limbah sekam padi yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi pertanian mulai dikembangkan menjadi material bernilai tambah.
Tim peneliti Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Makassar mengembangkan biomaterial sekam padi sebagai bahan alternatif Printed Circuit Board (PCB) fleksibel yang lebih ramah lingkungan.
Pengembangan inovasi tersebut menjadi bagian dari penelitian yang mendapat pendanaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 9.
Untuk memvalidasi hasil penelitian tahun pertama, tim peneliti menggelar Focus Group Discussion (FGD) Validasi dan Interpretasi Hasil Penelitian bersama Mitra Kelompok Tani Hutan (KTH) dan penyuluh di Hotel Claro Makassar, 26-27 September 2026.
Penelitian tersebut mengusung judul “Inovasi Teknologi Hijau dengan Pemanfaatan Biomaterial Sekam Padi Menjadi PCB Fleksibel melalui Kemitraan dengan Kelompok Tani di Berbagai Zona Agroekologi serta Membangun Potensi Ekonomi Berkelanjutan.”
Penelitian diketuai Prof. Rusdi Nur, S.ST., M.T., Ph.D., yang juga menjabat Direktur PNUP, dengan melibatkan Prof. Apriana Toding, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D. dari UKI Paulus bersama sejumlah peneliti PNUP.
“Penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengembangan material, tetapi juga bagaimana potensi sekam padi dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah melalui pendekatan teknologi hijau dan ekonomi berkelanjutan,” ujar Prof. Rusdi Nur.
Manfaatkan Limbah Pertanian
Penelitian ini berangkat dari besarnya potensi sekam padi yang dihasilkan dari aktivitas pertanian di berbagai wilayah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal sehingga tim peneliti mencoba mengolahnya menjadi biomaterial untuk kebutuhan teknologi.
Melalui pendekatan green technology dan circular economy, sekam padi diproses menjadi material komposit yang selanjutnya dikembangkan sebagai alternatif material PCB fleksibel.
Pada tahun pertama, tim telah menjalankan sejumlah tahapan penelitian. Mulai dari koordinasi dan survei bersama mitra, pengambilan sampel sekam padi dari berbagai zona agroekologi, preparasi biomaterial, hingga pembuatan komposit PCB.
Penelitian tersebut juga melibatkan KTH Makkatuo, KT Bilonga, dan KTH Limapa Subur, bersama penyuluh pendamping sebagai mitra di lapangan.
Keterlibatan kelompok tani menjadi bagian penting karena kondisi sekam padi sebagai bahan baku dapat berbeda berdasarkan wilayah dan karakteristik agroekologi.
“Masukan dari kelompok tani dan penyuluh sangat penting karena mereka memahami kondisi bahan baku dan lingkungan di lapangan. Data tersebut menjadi bagian dari proses validasi dan interpretasi hasil penelitian,” jelas salah satu tim peneliti.
Validasi Hasil Penelitian Tahun Pertama
FGD yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi ruang bagi peneliti untuk memaparkan hasil penelitian sekaligus mendapatkan masukan langsung dari mitra.
Dalam sesi tersebut, Nurfiansyah, S.Si., M.Si., memaparkan hasil analisis kimia, morfologi, serta degradasi material komposit berbahan sekam padi.
Sementara itu, Abdul Halim, S.T., M.T., menyampaikan perkembangan proses produksi, formulasi campuran komposit, serta hasil pengujian produk PCB fleksibel.
Masukan dari kelompok tani dan penyuluh kemudian digunakan untuk memperkuat interpretasi terhadap data yang diperoleh selama penelitian tahun pertama.
Penelitian ini juga tidak hanya berhenti pada aspek material. Kolaborasi lintas disiplin turut dikembangkan melalui keterlibatan mahasiswa dan dosen dari berbagai bidang, mulai dari Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro hingga Administrasi Bisnis.
Mahasiswa Ikut Kembangkan Potensi Bisnis
Salah satu bagian menarik dari FGD adalah keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan aspek bisnis dan teknologi.
Axel Imanuel Tandiari, bersama dosen Administrasi Bisnis, memaparkan pengembangan serta analisis bisnis yang menjadi salah satu luaran mahasiswa. Gagasan tersebut sebelumnya berhasil meraih Juara 2 International Business Administration Competition (IBAC) Bandung 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam melihat peluang komersialisasi dan pengembangan bisnis dari produk yang sedang diteliti.
“Pengembangan produk tidak cukup hanya menghasilkan material yang inovatif. Potensi bisnis dan penerimaan pasar juga perlu dipetakan sejak awal agar hasil penelitian memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomi,” ungkap tim peneliti.
Di sisi lain, dosen dan mahasiswa dari bidang Teknik Elektro memaparkan inovasi pengembangan sistem pemantauan pertanian berbasis Internet of Things (IoT) yang akan dikembangkan pada tahap berikutnya.
Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas kelompok tani sekaligus memperkuat keterkaitan antara inovasi material, teknologi digital, dan kebutuhan sektor pertanian.
Masuk Tahap Pengembangan Berikutnya
Penelitian ini dilaksanakan dengan skema multi-years selama tiga tahun dan kini memasuki tahap akhir pelaksanaan tahun pertama.
Pada tahap selanjutnya, tim akan melanjutkan pengujian terhadap sifat mekanik, kimia, dan degradasi biomaterial. Pengembangan sistem pemantauan pertanian berbasis IoT juga akan ditindaklanjuti untuk mendukung aktivitas para mitra kelompok tani.
“Kami berharap penelitian ini dapat menghasilkan alternatif material PCB yang lebih ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah terhadap limbah pertanian. Kolaborasi dengan kelompok tani, pengembangan teknologi, dan aspek bisnis menjadi bagian penting agar hasil penelitian dapat memberi manfaat yang lebih luas,” kata tim peneliti.
Kolaborasi PNUP dan UKI Paulus ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya lokal.
Sekam padi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diarahkan menjadi bagian dari inovasi material, sementara kelompok tani ditempatkan sebagai mitra dalam proses pengembangan teknologi.
Jika penelitian berjalan sesuai target hingga tahun ketiga, inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan alternatif PCB fleksibel berbasis biomaterial, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan.











