Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kawal Perbaikan Jalan Amblas di Poros Rantepao-Pangala’

Online24jam, Toraja Utara – Ketua Komisi D DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, John Rende Mangontan memantau dan mengawal langsung proses perbaikan jalan amblas yang menyebabkan arus lalulintas Rantepao ke Pangala’ via Sereale, terputus beberapa hari ini.

Proses perbaikan jalan amblas yang terjadi di Lembang (Desa) Sereale, Kecamatan Tikala, Toraja Utara ini dilakukan oleh kontraktor dan pegawai PU Bina Marga Sulsel pada Kamis, 2 Januari 2019. Penimbunan dan pembukaan gorong-gorong dilakukan sejak pagi.

JRM, sapaan akrab John Rende Mangontan baru meninggalkan lokasi bencana jalan amblas setelah pekerjaan penimbunan selesai dan bisa dilalui kendaraan, terutama roda dua.

“Saya harap, sore nanti, mobil sudah bisa lewat di jalur ini,” tegas JRM kepada para pekerja di lapangan.

Untuk diketahui, jalan poros Rantepao-Pangala’ via Sereale adalah jalan provinsi yang menghubungkan Toraja Utara (Sulsel) dengan Mamuju (Sulbar). Jalan ini melalui empat kecamatan di bagian utara Toraja Utara, diantaranya kecamatan Tikala, Kapala Pitu, Rindingallo, dan Baruppu’.

Pada Selasa, 31 Desember 2019 sore, salah satu titik di jalan poros ini, tepatnya di Limbong, Lembang Sereale, Kecamatan Tikala, amblas. Amblasnya badan jalan ini membuat arus lalulintas dari Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara ke tiga kecamatan, yakni Kapala Pitu, Rindingallo, dan Baruppu’, terputus total. Warga harus memilik jalan alternatif yang sempit dan berbahaya. Sebagian juga memilik jalur lewat Batutumonga, yang jaraknya sangat jauh.

Sejak Agustus 2019, jalan poros ini dikerjakan (dilebarkan) oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Proyek pelebaran jalan ini dikerjakan oleh PT Waetuwo dengan anggaran sebesar Rp2,880 miliar dan volume 10 kilometer. Longsor yang diakibatkan oleh pekerjaan pelebaran jalan ini diduga kuat menjadi penyebab amblasnya badan jalan di Sereale ini.

Teknis Pekerjaan Selain mengawal langsung proses perbaikan jalan yang amblas, JRM juga mengingatkan dan meminta kontraktor agar melakukan upaya penanggulangan darurat dengan mamasang turap bambu pada sisi kiri jalan yang rusak itu, karena kondisi tanah sangat labil dan mengancam keberadaan sawah milik masyarakat di bagian atas jalan.

“Kalau tidak diturap ini, saya khawatir sawah milik masyarakat ini bisa jadi korban,” tegasnya.
Selain itu, dia mengarahkan agar pihak kotraktor membuat saluran air terpusat di beberapa tempat agar sawah dan kebun milik masyarakat di bagian bawah jalan tidak tertimbun material longsor.

“Setelah melihat langsung ke lapangan, saya akan berkoordinasi dengan Dinas PU Bina Marga terkait teknis pekerjaan, termasuk kemiringan cuttingan, konsultan pengawas yang jarang ada di lapangan, juga konsultan perencana yang tidak menghintung dengan benar kondisi real di lapangan,” tandas politisi Partai Golkar ini. (*)