Cegah Stunting Sejak Dini: Gizi, Pola Asuh & Berasuransi

dprd-makassar

Online24jam, Jakarta, – Sosialisasi dan peringatan bahaya stunting bagi anak-anak Indonesia masih terus dilakukan oleh pemerintah agar prevalensinya yang saat ini sebesar 27,67% dapat terus turun. (Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019). Kasus stunting lebih banyak terjadi pada masyarakat kurang mampu, tetapi penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja jika ibu hamil dan keluarganya tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam pengasuhan anak sejak dalam kandungan. Untuk itu, masyarakat diharapkan menambah pengetahuan mengenai bahaya stunting sejak awal berumah tangga.

Selain pengetahuan soal stunting, mereka yang berencana menikah, baru berumah tangga, berencana hamil termasuk bagi anak yang ada dalam kandungan juga perlu memiliki asuransi kesehatan. Hal ini disarankan oleh Co-Founder MiPOWER by Sequis and Financial Planner Edwin Limanta karena ketika terjadi gangguan kesehatan pada masa kehamilan hingga terjadi stunting tentunya akan memerlukan banyak biaya untuk pengobatan.

“Asuransi kesehatan sangat bermanfaat bagi keluarga, termasuk membantu mewujudkan mimpi orang tua agar anak-anak mereka berkesempatan meraih hari esok yang lebih baik. Saat harus melakukan pengobatan, asuransi akan sangat membantu meringankan pengeluaran keluarga sebab biaya pengobatan akan ditanggung oleh asuransi sesuai perjanjian polis dengan demikian finansial keluarga dapat tetap terjaga,” sebut Edwin.

Asuransi kesehatan berkorelasi dengan masalah stunting. Sebab, jika terjadi stunting maka anak akan mudah sakit dan dapat mengalami gangguan fungsi kognitif. Bila disertai dengan kenaikan berat badan yang berlebihan kelak akan lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, jantung, stroke, dan kanker saat dewasa. Untuk itu, Anda bisa mempertimbangkan Sequis Q Health Platinum Plus Rider asuransi kesehatan dari Sequis yang bisa dimiliki sejak Tertanggung berusia 1 bulan yang memiliki Batas Manfaat Tahunan Keseluruhan (Batasan manfaat asuransi yang diterima nasabah dalam setahun) yang nilainya hingga Rp1,5 miliar/tahun.

Adapun stunting dapat terjadi pada awal kehidupan, yaitu 1.000 hari sejak masa konsepsi hingga anak berusia 2 tahun. Ini berarti, stunting masih dapat dicegah sejak masa kehamilan dengan melakukan deteksi stunting melalui pemeriksaan USG secara rutin. Dokter Spesialis Gizi Klinik RSIA Bina Medika Bintaro, dr. Amalia Primahastuti, Sp.GK mengatakan demi menghindari terjadinya pertumbuhan janin yang terhambat maka ibu hamil harus dalam kondisi tidak undernutrition (kekurangan gizi), juga harus terhindar dari infeksi selama hamil agar tidak terjadi kelahiran prematur. Dengan melakukan pemeriksaan maka dapat diketahui apakah pertumbuhan janin sudah sesuai dengan usia. Kemudian setelah lahir, deteksi dini dapat dilakukan dengan secara rutin mengukur berat dan panjang atau tinggi badan setiap bulannya pada usia 0 – 12 bulan dan setiap 3 bulan pada usia 1 – 3 tahun.

Agar ibu hamil tidak kekurangan gizi, harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta suplemen yang dibutuhkan selama hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin. Zat gizi terbagi menjadi 2, yaitu makro (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikro (vitamin dan mineral). Sedangkan untuk anak, Dr. Amalia menyarankan agar bayi di bawah usia 6 bulan sebaiknya diberikan ASI eksklusif. Sebab, ada banyak manfaat ASI eksklusif yang bisa didapatkan sebagai asupan nutrisi pada bayi.

Pola asuh juga menjadi salah satu cara mencegah stunting, yaitu praktek pemberian makan, imunisasi, stimulasi, dan kebersihan. “Praktek pemberian makan dengan cara mengonsumsi makanan bergizi seimbang selama hamil, melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) saat anak lahir, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, dan dilanjutkan dengan pemberian MPASI saat anak berusia 6 bulan. Ibu juga perlu membawa anak ke posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya agar anak dapat di imunisasi sesuai jadwal. Aspek kebersihan, yaitu menggunakan air bersih saat MCK, untuk masak dan minum serta cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kebersihan sangat penting bagi ibu hamil dan menyusui, terlebih saat pandemi karena berisiko terkena penyakit infeksi termasuk virus covid-19. Pada masa pandemi juga kemungkinan semakin banyak anak yang berisiko mengalami stunting karena terbatasnya akses makanan dan layanan kesehatan”, sebut dr. Amalia

Jika anak yang dilahirkan terlanjur stunting, dr. Amalia menyarankan orang tua membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi. Pada stunting fase awal, terapi dapat dilakukan karena cukup terbukti ada anak-anak yang menjalankan terapi, mampu kembali ke tinggi normalnya. Secara umum terapi pada anak stunting adalah pemberian makanan bergizi seimbang dengan kalori yang adekuat dan diberikan suplementasi gizi mikro. Pemerintah Indonesia pun sudah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan asupan makan melalui Program Makanan Tambahan (PMT) dan suplementasi seperti kapsul vitamin A, taburia (multivitamin), dan zinc (zat besi).

Dengan memiliki pengetahuan mengenai pola asuh dan gizi, serta bahaya stunting berarti kita peduli pada kesehatan dan masa depan anak. Demikian juga dengan memiliki asuransi kesehatan, finansial keluarga terjaga dan kita pun siap membantu anak mencapai masa depannya.