Tahun Baru Hijrah, Momentum Penyusunan Planning bagi Dosen dan Guru Profesional

Oleh:
Syahruddin Yasen ( Ketua Dewan Pengawas DPP ADGI, mantan wartawan Harian Pedoman Rakyat)

Online24jam, Makassar, – Bulan Muharram yang siklus tahunannya selalu hadir dalam kehidupan ummat Islam di seluruh dunia. Ia adalah bulan mulia, bulan yang diharamkan berbuat dosa dan maksiat. Bulan dilipatgandakan pahala kebaikan dan amal saleh, juga bulan dilipatgandakan dosa jika melakukannya.

Allah swt, sebagaimana direkam dalam jejak sejarah penyusunan dasar negara Pancasila, sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa, telah menjadikan hukum dan aturan dalam Qada’ dan Qadar, dan dalam takdir dan sunnatullah-Nya, bahwa dalam hitungan satu tahun terdapat 12 bulan ( QS. At- Taubah ayat 36).

Artinya, bilangan 12 bulan dalam setahun bukanlah karangan para nabi dan Rasul, atau bukan pula karangan para ulama dan yang maha terpelajar ( guru dan dosen), melainkan Allah sendiri yang membuat planningnya.
Menyambut setiap 1 Muharram, beragam kegiatan manusia di kolom langit ini untuk mengisi dan menyemarakkannya, baik dalam bentuk carnaval, kesenian islami, diskusi keummatan, zikir istigosah, dll.

Sayangnya, ummat Islam Indonesia yang mayoritas inj kurang antusias dalam mengisi dan menyambut tahun baru ciptaan Tuhannya. Mereka lebih cenderung menghargai tahun ciptaan manusia, seperti mereka menyambut masuknya Tahun baru Masehi yang penuh dengan semarak.

Hal tersebut terjadi karena model dan falsafahnya jauh berbeda. Jika tahun Masehi sering disambut dengan adegan musik, minum keras dan mabuk-mabukan, hingar bingar kembang api dan terompet, tetapi penyambutan tahun baru Islam lebih kepada model yang elegan (halus dan berbudi), tidak berlebihan dalam bergembira. Hal ini bukan karena tidak bisa, tetapi karena ummat Islam yakin dengan ajaran Tuhannya, bahwa janganlah berlebih-lebihan dengan kemewahan dunia, kelak kita akan ditanyakan dan dipertanggung jawabkan perbuatan itu. Bahkan falsafah hidup ummat Islam, bahwa dunia ini sementara dan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sandiwara, (ingatlah) kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang sebenar-benarnya kehidupan’ ( QS. al- Ankabut ayat 64)
Oleh karena itu, dalam ranah kehidupan dosen dan guru setidaknya setiap memasuki tahun baru Hijriyah, sedapat mungkin membuat planning (Perencanaan). Setiap profesi, termasuk guru dan dosen membutuhkan planning (dalam akidah sering dinisbatkan dengan istilah Qada’), tanpa planning yang benar, maka mustahil seorang dosen atau guru bisa perfect dalam memaksimalkan kinerjanya. Bahkan menjadi dosen dan guru profesional, memang harus inovatif, baik dalam ranah afektif, kognitif maupun psikomotoriknya.
Aspek afektif misalnya, seorang dosen atau guru membuat planning bagaimana seorang siswa bisa berubah karakternya dari yang tadinya suka malas dan kurang bergairah menjadi rajin dan bersemangat, aspek kognisi, bagaimana mahasiswa bisa menganalisis dan menyelesaikan suatu kasus yang sedang dihadapinya, aspek psikomotorik, misalnya, bagaimana dosen dan guru membuat planning agar peserta didik bisa melek masa depan dengan membuat prakarya peserta didik.

Sayangnya, tuntutan digitalisasi era disrupsi 4.0 dan bahkan sebagian sudah menuju standar indutri 5.0, tidak diimbangi dengan political will pemerintah dalam mengalokasikan anggaran kesejahteraan guru dan dosen. Dosen dan Guru terlalu banyak dihadapkan dgn tetek bengek adminitrasi BKD, Sister, Si Akad, dan secamnya. Belum ada formulasi yang tepat utk mendukung kesejahteraan dan pendapatan dosen dan guru, apalagi guru honorer dan dosen di perguruan tinggi swasta dipastikan belum sejahtera, bahkan banyak yang menjadikan profesi dosen dan guru yayasan hanya sebagai tempat pelarian sementara. Meskipun diantaranya, ada juga yayasan perguruan tinggi dan sekolah swasta yang sudah mampu mensejahterakan sebagian dosen dan gurunya. Hal ini lagi-lagi belum cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Akibatnya, di satu sisi dosen dan guru swasta dituntut berkinerja baik, tetap di sisi lain mereka belum sejahtera yang pada gilirannya kompetensi dosen dan guru mengalami stagnasi, apalagi menyahut tuntutan era disrupsi 4.0 dan 5.0. Dengan demikian, guru dan dosen selain harus membuat planning profesi dengan manajemen waktu yang baik, juga senantiasa meng-up date ilmunya. Wallahu a’lam (***)

Pemkot Makassar