Harsiarnas Ke 90 Penyesuaian industri Penyiaran menghadapi Invasi Teknologi

Regional1 Views
banner 468x60

Online24jam, Makassar, – 1 April merupakan hari dimana pemerintah menetapkan sebagai hari penyiaran nasional yang tertuang dalam pada keputusan presiden (Kepres RI) Nomor 9 tahun 2019 oleh presiden Joko Widodo pada 29 Maret 2019 lalu.

Dalam kepres tersebut disebutkan bahwa tanggal 1 April 1933 di Solo telah didirikan Lembaga Penyiaran Radio milik Indonesia yaitu, Solosclre Radio Vereeniging (SRV) yang di Prakarsai oleh KGPAa Mangkunegoro VII.

banner 336x280

Dalam momentum Harsiarnas tahun ini, berbagai kegiatan dilakukan, salah satunya adalah Talkshow yang di reley 7 stasiun radio dengan Radio Pool dalam Suara Celebes FM. Pemerintah dan Praktisi serta Regulator berkumpul dengan memperbincangkan eksistensi radio ditengah gempuran teknologi diera digital ini.

Komisioner KPID Sulsel, Riswansa Muchsin menyebutkan bahwa Ditengah Invasi Teknologi sekarang ini, lembaga penyiaran harus melakukan penyesuaian terhadap kehadiran teknologi sekarang ini, bahkan bukan hanya teknologi, tetapi lembaga penyiaran juga harus lebih memperhatikan Program agar tidak ditinggal oleh pemirsa atau pendengarnya.

Lebih lanjut Riswansa yang lebih akrab disapa Chiwank meminta agar radio kembali menjadi media pemersatu bangsa, karena Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 yang pertama kali menyiarkan adalah radio sehingga kita yang berada diluar pulau Jawa juga mengetahui kemerdekaan Indonesia pada waktu itu.

Chiwank menjelaskan bahwa, kekuatan Radio itu akan ada sepanjang masa, terbukti di era tahun 1990 an dimana masuknya televisi swasta sebagai alternatif hiburan masyarakat, radio yang awalnya sempat pesimis akhirnya mampu berada ditengah pusaran pilihan untuk hiburan dan informasi.

Pada kesempatan lain, Dani Pomanto yang juga Walikota Makassar menyebutkan bahwa Radio merupakan tempat atau wadah untuk mendeskripsikan narasi, karena kekuatan Radio ada pada Narasi yang disiarkan sehingga penyiar diharapkan mampu membawa pendengarnya untuk ikut berimajinasi pada siaran radio.

Hadir dalam diskusi tersebut, budayawan Sulsel, Yudistira Sukatanya. Mantan Kepala Stasiun RRI ini menyebutkan bahwa Radio merupakan alat sihir yang efektif untuk pendengar agar memahami pesan yang akan tersampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *