Online24, Makasar – Di sebuah rumah sakit di Makassar, Emmy Saelan dikenal sebagai seorang perawat. Tetapi ketika kemerdekaan Indonesia kembali terancam oleh kedatangan Belanda, ia memilih meninggalkan kenyamanan pekerjaannya dan masuk ke dalam barisan perjuangan.
Emmy Saelan menjadi salah satu pejuang perempuan yang namanya melekat dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.
Dari Perawat Menjadi Pejuang
Emmy pernah bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar.
Ketika Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi ditangkap dan diasingkan Belanda pada 5 April 1946, Emmy bersama sejumlah pekerja rumah sakit melakukan aksi protes.
Tidak lama kemudian, Emmy bergabung dalam perjuangan bersenjata.

Ketika Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dibentuk, ia dipercaya menangani bagian Palang Merah. Pengalaman sebagai perawat membuatnya memiliki peran penting dalam merawat para pejuang yang terluka.
Namun Emmy tidak hanya bekerja di belakang garis pertempuran.
Ia juga terlibat dalam berbagai aktivitas perjuangan.
“Aku Datang ke Sini untuk Menyerahkan Tenagaku bagi Tanah Air”
Pada saat pembentukan LAPRIS, Emmy menyampaikan tekadnya di hadapan para pejuang

“Aku datang ke sini untuk menyerahkan tenagaku bagi tanah air.
Kutipan tersebut tercatat dalam penelitian “Emmy Saelan: Perawat yang Berjuang” dan juga dalam buku Dinamika Kemiliteran di Sulawesi Selatan.
Kalimat tersebut menggambarkan pilihan Emmy.
Ia tidak lagi hanya menjadi perawat yang menyelamatkan korban perang. Ia telah menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Pertempuran Terakhir
Pada 20 Januari 1947, kontak senjata antara pasukan LAPRIS dan KNIL/NICA berlangsung hingga malam. Posisi pasukan pejuang kemudian terdesak ke kawasan Tidung
Keesokan harinya, 21 Januari 1947, beberapa pejuang LAPRIS ditangkap. Sementara Emmy dan kelompoknya berada dalam posisi yang semakin terjepit
Perlawanan kemudian berlanjut hingga kawasan Kassi-Kassi.
Dalam kondisi dikepung pasukan lawan dan menghadapi situasi yang semakin sulit, Emmy memilih melakukan perlawanan terakhir dengan menggunakan granat.
Ia gugur pada 21 Januari 1947 dalam usia sekitar 27 tahun. Penelitian sejarah mencatat Emmy meledakkan granat di tengah pasukan NICA/Belanda

Jejak yang Tidak Hilang
Kisah Emmy Saelan memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan dalam mempertahankan kemerdekaan memiliki banyak bentuk.
Ia merawat para pejuang.
Ia ikut bergerak bersama laskar.
Dan ketika berada dalam kepungan, ia memilih bertahan hingga akhir.
Warisan Emmy bukan hanya tentang bagaimana ia gugur.
Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk mengabdikan tenaga dan hidupnya bagi tanah air.

Sumber utama: Garuda Kemendikbud – Emmy Saelan: Perawat yang Berjuang dan Repositori Kemendikdasmen – Dinamika Kemiliteran di Sulawesi




