Online24, Makassar – Kalla Institute kembali mencatatkan capaian di bidang pendidikan dengan terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi terbaik dalam Program KRISAN Fellowship.
Capaian tersebut diraih melalui keterlibatan dua dosen Kalla Institute, Syarief Dienan Yahya dan Muhammad Fachrul Salam, dalam program yang berfokus pada penguatan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kalla Institute berhasil masuk dalam lima perguruan tinggi terbaik setelah melalui proses seleksi yang diikuti lebih dari 109 perguruan tinggi di Indonesia.
Pencapaian ini menjadi bagian dari upaya institusi untuk memperkuat lingkungan pendidikan yang inklusif, setara, dan responsif terhadap kebutuhan setiap peserta didik.
Pendidikan inklusif tidak sebatas memberikan akses belajar yang sama.
Konsep tersebut juga mencakup bagaimana perguruan tinggi membangun lingkungan akademik yang menghargai keberagaman, memahami kebutuhan individu, serta memberikan ruang yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang.
Dosen Kalla Institute, Syarief Dienan Yahya, mengatakan KRISAN Fellowship memberikan kesempatan bagi dirinya dan sivitas akademika untuk memperluas wawasan mengenai penerapan prinsip inklusivitas di lingkungan pendidikan tinggi.

“KRISAN Fellowship memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar dan memahami bagaimana pendidikan dapat hadir secara lebih inklusif. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui program ini diharapkan dapat diterapkan di Kalla Institute sehingga lingkungan kampus semakin terbuka dan mampu memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu,” ujar Syarief.
Senada, Muhammad Fachrul Salam menilai penerapan pendidikan inklusif membutuhkan komitmen bersama dari seluruh unsur perguruan tinggi.
Menurutnya, inklusivitas perlu menjadi bagian dari ekosistem sekaligus budaya yang tumbuh di lingkungan kampus.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menyediakan akses, tetapi juga membangun lingkungan yang memahami dan menghargai setiap perbedaan. Melalui KRISAN Fellowship, kami memperoleh perspektif baru yang menjadi bekal untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang lebih ramah dan setara,” kata Fachrul.
Keterlibatan dalam KRISAN Fellowship selanjutnya diharapkan dapat memperkuat kapasitas Kalla Institute dalam mengembangkan pendidikan yang lebih inklusif.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari program tersebut dapat menjadi bekal dalam pengembangan proses pembelajaran, aktivitas akademik, fasilitas, hingga lingkungan kampus yang semakin responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Bagi Kalla Institute, kualitas pendidikan tidak hanya diukur melalui capaian akademik maupun kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
Kualitas juga tercermin dari kemampuan perguruan tinggi menyediakan ruang belajar yang aman, nyaman, terbuka, serta memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh mahasiswa.
Ke depan, Kalla Institute berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dan mengembangkan berbagai inisiatif yang mendukung pendidikan inklusif.
Keterlibatan dalam KRISAN Fellowship diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun lingkungan akademik yang adaptif, setara, dan inklusif.
Pencapaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen Kalla Institute untuk menghadirkan pendidikan yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Melalui peran dosen dan seluruh sivitas akademika, Kalla Institute terus berupaya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional sekaligus menanamkan nilai keberagaman, kesetaraan, dan kepedulian terhadap sesama.





