Online24,Maros — Video keluarga pasien yang memprotes pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, viral di media sosial. Keluarga pasien mempertanyakan alasan rumah sakit menyebut ruang IGD penuh, sementara sejumlah tempat tidur terlihat kosong dalam rekaman tersebut.
Video berdurasi 2 menit 11 detik itu memperlihatkan seorang keluarga pasien terlibat adu mulut dengan petugas keamanan rumah sakit. Mereka mempersoalkan pelayanan yang diterima saat membawa orang tuanya untuk mendapatkan penanganan medis.
Dalam video tersebut, keluarga pasien menunjuk sejumlah tempat tidur yang terlihat kosong.
“Ini, ini kosong. Baru dibilang full lagi,” ucap keluarga pasien dalam rekaman yang beredar.
Keluarga pasien juga mempertanyakan cara petugas berkomunikasi saat menghadapi masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis.
“Bagaimana caramu melayani orang kah? Oh, ini security pelayanan, kayak begitu caramu?” protesnya.
Bupati Maros Minta Insiden Diklarifikasi
Menanggapi video viral tersebut, Bupati Maros Chaidir Syam mengaku telah meminta Direktur RSUD dr. La Palaloi memanggil jajaran terkait untuk mengklarifikasi kejadian itu.
Chaidir menegaskan, petugas yang terbukti melakukan pelanggaran dalam pelayanan akan dikenai sanksi tegas. Bahkan, ia menyebut petugas yang terbukti menolak pasien dapat diberhentikan.
“Kalau memang dia menolak pasien, itu bisa dihentikan, diberhentikan orang yang memang menolak tersebut,” kata Chaidir.
Menurutnya, seluruh petugas pelayanan publik, terutama di rumah sakit, harus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Terlebih, pasien yang datang ke IGD berpotensi membutuhkan penanganan medis mendesak.
RSUD Maros Bantah Menolak Pasien
Sementara itu, Direktur RSUD dr. La Palaloi, dr. Sri Syamsinar, membantah adanya penolakan pasien dalam kejadian tersebut.
Sri menjelaskan, saat pasien datang, kapasitas tempat tidur di IGD sedang penuh. Menurutnya, tempat tidur yang terlihat kosong dalam video memiliki peruntukan khusus.
Satu tempat tidur disiapkan untuk tindakan kegawatdaruratan, termasuk mengantisipasi kedatangan pasien dalam kondisi darurat seperti korban kecelakaan. Adapun empat tempat tidur lainnya diperuntukkan bagi pasien anak sehingga tidak sesuai untuk digunakan pasien dewasa.
“Bukan penolakan. Memang situasi pada saat itu IGD sementara full,” ujar Sri.
Ia mengatakan pasien tersebut telah diperiksa oleh dokter jaga IGD. Berdasarkan pemeriksaan awal, kondisi pasien dinilai tidak termasuk kategori gawat darurat sehingga diarahkan ke puskesmas terdekat sesuai alamat tempat tinggalnya.
Sri juga menyebut terdapat kondisi kekuningan pada bagian putih mata atau sklera pasien. Namun, pemeriksaan tidak dilakukan secara mendetail karena pasien dinilai tidak berada dalam kondisi gawat darurat.
Menurutnya, pasien yang tidak memenuhi kriteria kegawatdaruratan dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk mendapatkan penanganan awal. Jika diperlukan, puskesmas dapat merujuk pasien ke rumah sakit berdasarkan hasil pemeriksaan.
Kapasitas IGD Diklaim Selalu Penuh
Sri mengungkapkan, kepadatan pasien di IGD bukan hanya terjadi saat insiden tersebut. Dalam dua bulan terakhir, kapasitas IGD yang mencapai 38 tempat tidur disebut tidak pernah kosong.
Tingginya jumlah kunjungan membuat petugas harus menunggu pasien lain selesai menjalani perawatan atau dipindahkan ke ruang rawat inap sebelum tempat tidur dapat digunakan kembali.
Menurut Sri, kondisi tersebut juga berdampak pada pasien rujukan dari puskesmas yang terkadang harus menunggu satu hingga dua jam untuk mendapatkan tempat tidur.
Ia menilai kapasitas 38 tempat tidur sudah cukup besar untuk IGD rumah sakit tipe C. Namun, tingginya jumlah kunjungan pasien membuat ketersediaan tempat tidur tetap menjadi persoalan.
Rumah Sakit Sebut Video Tak Tampilkan Kronologi Utuh
Terkait video yang viral, Sri menyebut rekaman tersebut tidak memperlihatkan keseluruhan kronologi kejadian.
Ia menjelaskan, pasien awalnya datang bersama salah seorang anaknya. Keluarga yang mendampingi pasien saat pertama kali mendapatkan penjelasan dokter disebut menerima arahan untuk mencari fasilitas kesehatan lain karena kondisi pasien dinilai tidak gawat darurat.
Namun, situasi kemudian berubah setelah anggota keluarga lain datang dan merekam kejadian tersebut.
Sri juga menjelaskan seorang pria berbaju hijau yang terlihat dalam video merupakan keluarga pasien lain, bukan keluarga dari orang yang merekam protes.
Meski demikian, pihak rumah sakit mengaku tidak mengetahui secara pasti keberadaan pasien setelah meninggalkan IGD, termasuk apakah pasien melanjutkan pemeriksaan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik di tengah perdebatan mengenai ketersediaan tempat tidur dan kualitas pelayanan di IGD. Bupati Maros telah meminta klarifikasi, sementara pihak rumah sakit membantah adanya penolakan pasien dan menyatakan keputusan tersebut didasarkan pada kondisi IGD serta hasil pemeriksaan awal.







