Transformasi Nilai Ekonomi Syariah dalam Membangun Peradaban Baru

Ilustrasi Ekonomi Syariah dan Konvensional (int).

Online24jam, Makassar, – Keinginan untuk memajukan Ekonomi Syariah dari segala aspek kehidupan, sebenarnya sudah lama terkristalisasi dalam pikiran para pendiri bangsa ini. Sayangnya keinginan tersebut belum juga terwujud antara lain disebabkan masih terpencarnya cara pandang, kualitas dan kapasitas diri, kesadaran, rasa cinta pada tanah air.

Kini, muncul kesadaran baru serta kerinduan akan kemakmuran Indonesia melalui tatanan ekonomi baru, yaitu ekonomi syariah. Pertanyaannya apakah ekonomi syariah itu? Apa kelebihannya dibanding sistem ekonomi konvensional?

Narasi Peradaban dalam Pengertian
Salah satu hasil yang dicapai oleh umat islam dalam peradabannya adalah kemajuan di bidang ekonomi seperti yang terjadi pada jaman khulafa’ur rasyidin, terutama pada masa khalifah Abbassiyah. Selanjutnya, muncullah rumusan-rumusan tentang definisi ekonomi islam, tanpa membatasi kebebasan individu ataupun menciptakan ketidakseimbangan makro dan ekonomi logis.

Pada masa sekarang direkonstruksi dalam sebuah mazhab atau sistem ekonomi sebagai pengganti sistem ekonomi liberal-kapitalis dan sosialis yang dinilai telah banyak merusak tatanan ekonomi negara di dunia selama ini dan telah memporak-porandakan nilai-nilai akidah, akhlak dan ekonomi. Untuk itulah dinilai perlu membangun kembali idealisme Syariah.

Nilai Dasar Kepemilikan
Konsep kepemilikan ekonomi dalam sistim Liberalisme-kapitalisme memandang bahwa kepemilikan bersifat absolut dan bertentangan dengan paham sosialisme yang mengajarkan, seseorang tidak diperkenankan untuk memiliki kapital atau modal, sebab memiliki kapital dengan sendirinya bisa menguasai sarana-sarana produksi yang dapat menimbulkan ketimpangan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Kedua mazhab ekonomi tersebut sama-sama memiliki kelemahan yang berakibat menimbulkan ketidak adilan dan ketimpangan. Sementara konsep kepemilikan dalam Syariah mengambil jalan tengah dari dua kelemahan sistem ekonomi tersebut.

Nilai Keadilan dalam Ekonomi Syariah
Dalam sistem liberialisme-kapitalisme sesuatu itu dikatakan adil kalau seandainya penyelesaiannya masalah ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Dalam Syariah sangat menekankan pentingnya memerhatikan dan menegakkan keadilan. Tidak saja keadilan untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri. termasuk dalam bidang ekonomi.

Nilai Keseimbangan Ekonomi Syariah
Keseimbangan adalah tidak berat sebelah, baik itu usaha-usaha kita sebagai individu yang terkait dengan keduniaan dan keakhiratan, maupun yang terkait dengan kepentingan diri dan orang lain, tentang hak dan kewajibannya. Disanalah letak keseimbangannya. Bahwa perbedaan bukan untuk dijadikan kesenjangan (gap), tetapi justeru untuk mencapai keseimbangan atau keselarasan.

Nilai Kebebasan
Ibnu Qudamah menjelaskan, kebebasan dimaksud adalah tauhid sebagai pilar pertama dalam struktur pasar Syariah. Kebebasan didasarkan atas ajaran- ajaran fundamental Syariah, dengan kata lain nilai dasar kebebasan ini merupakan konsekuensi logis dari ajaran tauhid ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. Yang bermakna bahwa manusia terlepas dari ikatan perbudakan baik oleh alam maupun oleh manusia sendiri.

Nilai Dasar Kebersamaan
Dalam sistem ekonomi liberalisme-kapitalisme lebih menekankan penghormatan terhadap individu secara brlebih-lebihan. Asumsi mereka bila setiap individu sudah sejahtera maka masyarakatnya otomatis akan sejahtera.

Sistem ekonomi sosialisme lebih mementingkan nilai kebersamaan dan persaudaraan antara sesama manusia daripada nilai–nilai individualisme. Akibatnya orang perorang tidak mendapatkan tempat dalam sistem ini.

Sistem ekonomi Syariah tidak ada perbedaan sosial, Jadi dengan konsep kebersamaan yang dibawa Syariah telah menciptakan konsep baru dalam sistem demokrasi, manusia sama di depan Tuhan. Jadi, arti demokrasi di dalam Syariah tidaklah hanya bernuansa insaninyah (kemanusiaan) tetapi juga bernuansa ilahiyyah (ketuhanan).

Muh. Idris
(Data berbagai sumber)