Online24, Makassar – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan, mengancam warisan prasejarah berusia puluhan ribu tahun. Berdasarkan laporan pada 13 Oktober 2026, Sekitar 26 hektare lahan dilaporkan terbakar, dengan api merembet hingga kawasan karst yang menyimpan lukisan cadas purba.
Kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Arung Sabila, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi merusak peninggalan arkeologi yang tidak tergantikan.
Kawasan karst Maros-Pangkep dikenal memiliki lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa dan cap tangan yang diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun. Peninggalan ini menjadi bukti penting perjalanan sejarah dan kehidupan manusia purba.
Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari medan karst yang terjal, akses menuju titik api yang sulit, hingga angin kencang yang mempercepat penyebaran kebakaran.
Petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, pengelola taman nasional, dan masyarakat dikerahkan untuk mengendalikan api. Mereka menggunakan pompa air, selang panjang, serta alat pemadam punggung. Namun, keterbatasan sumber air dan api yang menjalar di celah-celah batu membuat proses pemadaman semakin menantang.
Panas dan Asap Bisa Merusak Lukisan Purba
Ancaman kebakaran tidak hanya menyasar vegetasi dan ekosistem hutan, tetapi juga kelestarian lukisan gua yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.
Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, memperingatkan bahwa panas ekstrem dapat memicu perubahan suhu pada batuan kapur. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat pelapukan, menimbulkan retakan, hingga menyebabkan pengelupasan lapisan batuan tempat lukisan berada.
Selain itu, asap kebakaran menghasilkan jelaga yang dapat menutupi permukaan lukisan. Akibatnya, detail gambar dan warna pigmen asli berisiko sulit dikenali.
Kerusakan tersebut dikhawatirkan bersifat permanen. Karena itu, pengendalian api dan langkah mitigasi dinilai penting untuk mencegah kebakaran menjalar ke kawasan gua prasejarah.
Kemarau dan Angin Kencang Persulit Pemadaman
Kondisi cuaca turut memperbesar risiko meluasnya kebakaran. Wilayah Maros dan Pangkep masih berada dalam periode kemarau, dengan suhu udara diperkirakan berkisar 25–36 derajat Celsius berdasarkan informasi cuaca yang dikutip dalam laporan tersebut.
Angin kencang berpotensi mempercepat penjalaran api, sementara terbatasnya sumber air menyulitkan petugas menjangkau sejumlah titik kebakaran.
Operasi pemadaman dilakukan dengan memprioritaskan keselamatan personel dan perlindungan permukiman yang berbatasan dengan kawasan hutan. Petugas juga berupaya melakukan penyekatan untuk menghambat penyebaran api ke area lain.
Ratusan Situs Prasejarah Ikut Terancam
Kawasan karst Maros-Pangkep tercatat memiliki 734 situs prasejarah, dengan lebih dari 400 situs di antaranya menyimpan lukisan cadas. Sebagian situs berada di kawasan tebing karst yang rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Basran Burhan mengungkapkan, kebakaran serupa pernah terjadi pada 2014 dan 2015. Berulangnya kejadian tersebut menunjukkan pentingnya penguatan upaya pencegahan serta sistem mitigasi kebakaran di kawasan konservasi.
Di sisi lain, karst Maros-Pangkep tengah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Status dan nilai penting kawasan ini membuat perlindungan terhadap lingkungan serta peninggalan arkeologinya menjadi semakin krusial.
Para ahli mendorong penguatan pencegahan kebakaran, penghijauan menggunakan tanaman lokal, serta koordinasi antarlembaga untuk menjaga kelestarian kawasan.
Kebakaran di Maros-Pangkep menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla bukan hanya tentang hilangnya tutupan hutan. Jika tidak segera dikendalikan, api juga berpotensi merusak jejak kehidupan manusia purba yang memiliki nilai sejarah penting bagi Indonesia dan dunia.











