Online24jam,Makassar, – Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat pengembangan industri wastra lokal sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang pasar hingga tingkat internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa secara nasional sektor ekonomi kreatif, termasuk fashion, wastra, dan kuliner, menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif bukan lagi sektor pelengkap, melainkan salah satu motor penggerak ekonomi.
Menurut Rizki, potensi Sulawesi Selatan tidak kalah dibanding daerah lain. Karena itu, BI bersama Pemerintah Provinsi Sulsel dan berbagai instansi terus mendorong agar wastra khas daerah mampu menjadi kebanggaan nasional bahkan menembus pasar global.
“Tahun lalu kami telah memfasilitasi salah satu desainer Sulawesi Selatan untuk tampil di Turki. Ke depan, karya-karya wastra Sulsel harus semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas para desainer Sulsel dinilai mampu bersaing dengan desainer nasional maupun internasional. Bahkan, karya mereka akan kembali ditampilkan pada ajang Karya Kreatif Indonesia sebagai etalase produk unggulan daerah.
Selain promosi, BI juga terus memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui berbagai program pendampingan. Setiap tahun sekitar 75 UMKM mengikuti pembinaan, yang dilengkapi dengan program Riwako Petani, Riwako Ekspor, hingga Riwako Pesantren untuk mendorong kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menilai industri kreatif memiliki nilai ekonomi yang sangat besar karena bertumpu pada kreativitas. Menurutnya, produk seperti wastra tidak hanya dinilai dari biaya produksi, tetapi juga dari nilai seni, keunikan, dan selera pasar.
“Semakin tinggi apresiasi masyarakat terhadap wastra lokal, maka semakin tinggi pula nilai ekonominya. Karena itu, kita harus menjadikan wastra Sulsel sebagai pilihan utama masyarakat Indonesia,” katanya.
Jufri juga mengusulkan pembentukan inkubator wastra yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para desainer, pengrajin, dan pelaku usaha untuk berbagi ide, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat daya saing.
Di sisi lain, ia menilai peran Bank Indonesia sangat strategis dalam membantu mencarikan offtaker atau pembeli potensial bagi produk-produk wastra. Melalui pameran dan promosi yang berkelanjutan, transaksi yang awalnya masih terbatas diyakini akan terus berkembang seiring meningkatnya minat pasar.
Tak hanya itu, Jufri mengajak masyarakat menjadikan penggunaan wastra sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Menurutnya, memakai wastra lokal pada berbagai acara merupakan bentuk nyata dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Jangan pernah memandang sebelah mata kain sutra dan wastra kita. Jika masyarakat sendiri bangga menggunakannya, maka wastra Sulawesi Selatan akan semakin dikenal hingga tingkat nasional bahkan dunia,” pungkasnya.











