Covid-19 Menimbulkan Ancaman Kelaparan, IDP Optimis Warga Luwu Utara Tetap Tersedia Stok Pangannya

Online24, Luwu Utara – Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Bogor melakukan obrolin pangan melalui video conference zoom (vicom) dengan tema Ancaman Kelaparan di Tengah Pendemi Covid-19 yang diikuti Kepala PSP3 IPB Universitas, Dr. Sofyan Sjafar, Expert Board KRKP, David Ardhian, Perwakilan Dirjend PPMD Kemendesa, Kordinator Katalis Indonesia, Siswan, para NGO, Kamis, (9/4/2020).

Masalah ini, menjadi ancaman daerah, yang ketersedian pangannya tidak tersedia.

Olehnya itu, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, mengatakan bahwa kerawanan pangan muncul di kota tapi bisa juga masuk ke desa, karena tekanan Covid-19 yang menurunkan akselerasi produksi pangan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani yang menjadi salah satu narasumber pada kesempatan tersebut, mengatakan bahwa untuk memompa “keterjangkauan” masyarakat terhadap pangan, disiasati dengan padat karya dalam pembangunan di desa seluruh Kabupaten Luwu Utara.

“Identifikasi dan pemetaan situasi pangan di tingkat terkecil di dalam kabupaten menjadi baseline untuk penerapan strategi pengamanan pasokan pangan,” tuturnya.

Lanjut Dia, luas persawahan saat ini di Luwu Utara mencapai 28.404 Ha, dengan produksi 247.905 Ton sehingga surplus mencapai 94.000 Ton. Diperkirakan angka ini akan bertambah karena puncak panen raya akan berlangsung di minggu ketiga April sampai pertengahan Mei.

“Stok pangan daerah Luwu Utara dapat mencukupi sampai bulan Oktober namun tetap, situasi pangan di Luwu Utara cukup gradual, sehingga perlu ada subsidi silang dari daerah surplus pangan ke daerah yang defisit pangan menjelang bulan Suci Ramadhan dan pada masa pandemi coronavirus 2019,” imbuhnya.

Indah tambahkan, selain itu, pangan lokal juga tersedia seperti sagu, jagung, ikan, sayur. pada masa pandemi ini, petani masih bisa berproduksi dengan penggunaan mekanisasi pertanian yang mampu mengurangi jumlah pekerja di sawah sehingga penanggulangan phisical distance di sawah dapat terkontrol.

“Penanggulangan melalui phisical distance di sawah dapat terkontrol karena filsafah orang tua dahulu kita “lebih baik mati berdarah dari pada mati kelaparan” itulah yang membuat para petani tetap semangat untuk beraktivitas di tengah Covid-19,” tutupnya. (*)