“Asa Menemukan Jalannya”, Sepotong Catatan Buat Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono

dprd-makassar

Oponi Oleh : Rusman Madjulekka

Online24, Makassar – Hidup segan mati tak mau. Begitulah gambaran kondisi yang dialami para nelayan kita selama masa Pandemi Covid-19. Pemandangan miris berhembus ramai di jagat media, baik cetak, online maupun ‘layar kaca’.

Banyak nelayan mengeluh. Mereka mengaku menderita kerugian menyusul seretnya hasil penjualan. Pasar-pasar ikan sepi pembeli, tempat pelelangan ikan pun tak seramai sebelumnya.

Daeng Kulle, nelayan di pesisir Makassar (Sulawesi Selatan) misalnya, hanya pasrah meratapi nasibnya. Tatapannya kosong, tanpa gairah. Ia pulang kampung, banting stir menjadi kuli bangunan. Yang lain, terpaksa kerja serabutan demi asap dapurnya tetap mengepul.

Potret serupa juga mendera pelaku usaha perikanan skala mikro dan kecil (UKM) dan koperasi perikanan di berbagai daerah sentra produksi. Berkurangnya permintaan pasar telah menyebabkan stok ikan di cold storage menumpuk.

“Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak dan permasalahan yang cukup serius bagi koperasi perikanan kami,” kata Hermanto, Ketua Koperasi Nelayan Santo Alvin Pratama Kota Ternate Maluku Utara.

Dampak lainnya pengeluaran biaya ekstra untuk pengawetan. Jufri, pengusaha ikan asal Donggala, Sulawesi Tengah mengaku, ikan yang tadinya dikirim segar, jadi gampang busuk karena keterlambatan pengiriman.

Akibatnya, ikan andalan Donggala, yaitu ikan tuna, mengalami penurunan peminat di pasar. Padahal sebelumnya, ikan ini jadi salah satu ikan terlaris di pasar.

“Harga dari nelayan untuk tuna dulu Rp43 ribu per ekor, sekarang turun jadi Rp37 ribu. Sementara, banyak nelayan atau pengusaha yang masih belum berani menjual hasil tangkapannya ke luar karena pandemi,” katanya.

Kelesuan usaha juga berimbas kerugian income sentra industri pengolahan produk hasil kelautan dan perikanan di Bitung (Sulawesi Utara), Ambon, Tual, Halamahera, (Maluku), Sorong (Papua Barat) dan lainnya yang tersebar di jazirah Indonesia Timur.

Sementara saat bersamaan terjadi tekanan hebat di sisi produksi. Terhambatnya suplai BBM, bahan makanan ke kapal termasuk biaya listrik jadi biang keroknya.

Secara spesifik, kondisi diperparah lagi dengan lemahnya daya saing produk perikanan Indonesia terutama dari wilayah timur. Pasalnya,biaya logistik yang masih tinggi dan terbatasnya akses jalur transportasi laut untuk pemasaran ikan.

Mengapa Indonesia Timur paling terdampak? Karena selama ini, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sumberdaya perairan Indonesia Timur menyumbang kurang lebih 60 persen bagi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Rupanya, ditengah amukan pandemi yang belum jelas ujungnya ini, harapan itu seolah menemukan jalan terangnya. Ibarat setitik cahaya di lorong gelap. Himpitan ekonomi yang mendera perlahan hilang seiring berjalannya waktu.

Hati kecil nelayan dan pelaku usaha tentu tak ingin meratapi kegagalan. Justru sebaliknya, menjadi momentum bangkit dari keperpurukan. Mereka dituntut memutar otak dan tertantang melakukan kreatifitas, inovasi, dan transformasi meninggalkan cara-cara lama yang konvensional.

Alhasil, kembali ramai tersiar kabar di jagat media. Bermunculan aneka kreatifitas nelayan menjajakan ikannya. Mulai dengan jemput bola, door to door, antar pesan via smartphone, dan sebagainya yang tak terpikirkan sebelumnya. Ada juga yang naik kelas. Akrab dengan aplikasi, beradaptasi sistem yang berbasis informasi teknologi (IT).

Selain itu, karakteristik yang mendominasi usaha perikanan darat di wilayah Indonesia Timur pun mulai menggeliat. Empang-empang yang dulu tidur hidup kembali. Usaha ikan asin, abon ikan, cemilan berbahan ikan, presto, kuliner, dan olahan ikan lainnya seakan mendapat oksigen baru.

Disamping itu, perikanan skala kecil khususnya di wilayah timur Indonesia juga sangat didukung adanya keberadaan koperasi perikanan sebagai wujud dari ekonomi yang bertumpu pada kerakyatan yang berpihak kepada masyarakat nelayan.

“Dulu di Selat Lembeh Bitung kita mengenal bagi hasil antara nelayan bagan penangkap ikan teri untuk umpan hidup kapal Skipjack Pole line (SPL), dimana nelayan bagan menerima 20% dari harga jual hasil tangkapan kapal SPL. Koperasi perikanan Indonesia juga pernah berjaya di era 1980-1990-an,” kata Agus Suherman, Ketua Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) dalam sebuah dialog virtual, Rabu (15/7/2020) sebagaimana dikutip Katalaut.id.

Mengingat nelayan dan pelaku usaha perikanan di Indonesia timur paling terdampak, maka menjadi tanggungjawab moral pemerintah turun tangan dan mewujudkan kehadirannya.

Pandemi ini setidaknya telah menuntun kita pada perilaku dan kebiasaan hidup yang berbeda. Kehadirannya mampu mengasah kepekaan kita untuk melahirkan kreatifitas, inovasi, efisiensi dan mengutamakan hal-hal yang substantif.

Tantangan didepan mata. Membuka simpul-simpul jalur distribusi produk perikanan melalui ‘tol laut’ perikanan. Bukan sekedar jargon tapi butuh komitmen kuat dari semua pemangku kepentingan untuk mewujudkannya. Toh, pemerintah pada 2019 telah menetapkan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (LIN).

Alangkah baiknya secara beriringan juga dilakukan upaya penyediaan reefer container (kontainer berpendingin) dan harga logistik yang kompetitif sehingga bisa memberikan keuntungan bagi nelayan.

Karena berdasarkan hitung-hitungan FK2PT, dengan asumsi minimal 3000 refer container setahun dari wilayah timur ke Jakarta dan Surabaya (kapasitas 18 ton/per kontainer dan tingkat efisiensi 1000/kg) saja maka akan ada Rp 54 miliar/tahun yang dapat dinikmati oleh nelayan maupun koperasi melalui harga jual yang lebih baik.

Apalagi, jika pemerintah menambah armada tol laut untuk mengangkut reefer container dari sentra-sentra perikanan ke sentra pengolahan maupun konsumsi, maka harga baik bakal dinikmati para nelayan.

Disisi lain, KKP dibawah komando Sakti Wahyu Trenggono dapat mengorkestrasi lembaga/kementerian terkait seperti Perhubungan dan BUMN agar mendorong dan konsisten mengakseslerasi upaya perluasan pasar domestik dan internasional atas produk kelautan dan perikanan Indonesia timur.

Masa yang sulit ini telah membangunkan nalar sehat kita untuk merespons arus perubahan. Setidaknya, bagi Daeng Kulle dan pelaku usaha perikanan lainnya, pengalaman ini ibarat blessing in disguise atau rahmat Tuhan yang tersembunyi dibalik bencana pandemi ini. (*)