Opini : Kota Bola Tanpa Stadion Bagaikan Kota Tanpa Reputasi

Ano Suparno Jurnalis-Mantan Marcom PSM
dprd-makassar

Online24, Makassar – Eropa sudah memulai sepak bola. Dari yang tak dihadiri penonton hingga akhirnya suporter mulai menjubel duduk di kursi tribun, sambil berteriak yel yel dukungan pada kesebelasan kesayangannya. Inilah salah satu hiburan bagi warga Eropa, di tengah pandemi Covid-19. Setelah mereka mencoba tanpa penonton lalu gelaran Piala Eropa maka tiba jualan keputusan mereka bahwa tak ada pilihan lain, kota kota di Eropa bersama klubnya membuka kembali stadionnya bagi sepak bola dan masyarakatnya. Sebab mereka sadar, sepak bola adalah prestesius bagi suatu kota.

Kini kompetisi di Eropa telah masuk pada fase laga persahabatan atau Friendly Game untuk menuju kompetisi resmi. Liga seria A, Premier League, Liga1 dan La Liga serta liga Eropa lainnya telah bersiap turun lapangan. Standar atau SOP seiring dengan Pandemi Covid-19 telah mereka punyai. Segalanya telah siap untuk meraih kembali kehidupan dan berdampingan dengan Covid-19. Dan itu lah cara mereka agar klub dan kota mereka tak lekang oleh Covid-19, mereka harus bangkit kembali sehingga jutaan pasang mata di dunia kembali menyaksikan kota kota mereka melalui layar kaca, hape dan membaca nya melalui media massa.

Kita ke lapangan hijau Indonesia Sebenarnya pengalaman menghadirkan Piala Presiden Maret 2021 lalu seharusnya telah menjadi barometer bagi Indonesia dalam hal ini PSSI dan Menpora untuk memberikan tontonan bagi suporter Indonesia menyaksikannya club kesayangan mereka berjibaku di lapangan hijau. Perhelatan Piala Presiden merupakan pengalaman yang sukses dimiliki oleh regulator yang tak perlu lagi menunda nuda perhelatan sepak bola. Berlaga tanpa penonton, PCR berlapis dari para pemain, official serta panitia pelaksana merupakan SOP yang sangat ketat sehingga laga di mana pun berlangsung pemerintah tak perlu khawatir akan menjadi klaster. Tak perlu mencari zona hijau atau zona aman, jika SOP super ketat itu dijalankan maka saya yakin liga 1 dan Liga 2 akan sukses. Tetapi, toh kini perhelatan itu tak lama lagi, sisa hitungan hari 28 Agustus 2021. Semoga ini bukan prank lagi bagi suporter Indonesia.

Kita ke Lapangan Hijau Makassar Nah, ini rada rumit, njilimet. Bukankah Kota Daeng ini memiliki rumpun hijau yang melahirkan pesepakbola kesohor, Malang melintang dari klub ke klub, baik sebagai pemain maupun pelatih. Akan tetapi, kota para daeng ini belum memiliki kembali Stadion? Sehingga tak pantas dan layak untuk perhelatan Liga 1 PSSI berstandar AFC. Toh jika Makassar atau Sulsel telah masuk kategori zona orange, hijau atau aman maka tetap saja suporter dan pecinta bola gigit jari. Mereka harus menyaksikan laga klub kesayangan mereka PSM Makassar, bertanding melalui layar televisi.

Kapankah kita bisa hadir di stadion? jika tak ada aral yang melintang maka kita baru bisa berkumpul di stadion menyaksikan PSM dan klub lain berlaga, nanti pada tahun 2024. (Paling cepat). Hald itu terjadi jika: Kebut membangun renovasi Stadion Mattoanging. Atau Pemprov melirik kembali Stadion Barombong untuk segera difungsikan.

Melirik stadion Barombong? Yah, saya rasa tak ada salahnya bagi Pemprov Sulawesi Selatan, Pemkot Makassar, mungkin bisa bekerjasama dengan Bosowa selaku pemilik PSM Makassar untuk mencoba mencari celah agar stadion yang tepat berada di bibir pantai Barombong itu dapat difungsikan kembali. Premis sederhana bagi saya. Jika bangunannya menyalahi standar teknis pembangunan stadion? mengapa tak diluruskan? Memanggil konsultan stadion untuk membenahi bagian mana yang tidak memenuhi standar.

Membaca pemberitaan pada tahun 2019, Gubenur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah terkesan tarik ulur untuk melanjutkan stadion barombong. Acapkali ia menyebut, tak melanjutkan sebab tiga hal. Audit forensik, hak alas hingga bakalan terjadi kemacetan jika pertandingan sepak bola sedang berlangsung. Alih alih mencari solusi dari ketiga alasan di atas, Nurdin malah meruntuhkan Stadion Mattoanging tanpa menyisakan corak stadion tertua di tanah air itu. Nurdin kini dalam pesakitan. Ia meninggalkan jejak yang tak akan dilupakan oleh dunia sepak bola di Makassar. Harapan sepak bola Makassar tengah dipundak Andi Sudirman Sulaiman, Plt Gubenur Sulsel. Pada perkembangan terakhir, harapan itu ada. Medio Maret 2021, Sudirman tak menampik dapat melanjutkan kembali Pembangunan Stadion Barombong. “Stadion Barombong? Semua berpotensi dilanjutkan tinggal melihat lagi bagaimana anggaran kita punya dan yang mana kita kerjakan,” kata Sudirman Sulaiman, 8 Maret 2021.

Artinya, pembangunan stadion di Makassar sebenarnya hanyalah itikad baik dari pemangku. Jika yang bersangkutan memang memiliki kepedulian pada dunia sepak bola, sebagaimana Makassar sebagai gudangnya pemain sepak bola, olahraganya dunia maka tak ada kesulitan untuk membangun stadion. Pekan kemarin, grafis stadion Mattoanging versi Plt gubernur telah meruyak melalui lama media sosial diposting oleh sejumlah suporter PSM. Sederhana tetapi nampak terlihat, ada kesan pada beberapa struktur bangunan terdapat jejak stadion Mattoanging versi lama. Ini bagus. Apalagi telah memenuhi standard AFC. Tetapi menunggu kapan kelar, rasanya perlu bersabar untuk kesekian lamanya. Masih butuh sejumlah tahapan. Kita berharap tahapan demi tahapan terlewati sehingga progres nya pun berjalan sesuai cita cita dan niat bersama. Sekali lagi perjalanan Stadion Mattoanging masih lama. Lalu mengapa tak melirik Stadion Barombong? Jika ini dilanjutkan maka tak butuh lama bagi suporter dapat meneriakkan yel yel tim kebanggaannya berlaga di lapangan hijau. Tentu klub klub lagi dari berbagai kota kembali menginjakkan kakinya di Makassar setelah sekian lama talk merasakan hiruk pikuk sepak bola Makassar. Nikmati coto nya, palllubasanya, ikannya, Losari nya hingga langgam Bugis Makassar.

Mengakhiri goresan ini, saya mengantar anda ke Yunani di kisaran Abad 776 SM saat pemikir dan pemangku kota Yunani, ketika pertamakali menghadirkan stadion Olympia Yunani, salah satu stadion tertua di dunia. Mereka berpendapat seperti ini. Stadion merupakan lambang prestesius dan reputasi kota untuk bercerita pada DUNIA.

Opini oleh : Ano Suparno Jurnalis-Mantan Marcom PSM

Pemkot Makassar