Opini : Abu Janda dan Benalu NU

DR H Suf Kasman
dprd-makassar

Online24, Makassar – Setiap zaman muncul pengacau-pengacau begundal alias SARA’ DASI MATTALAPPERE (Bugis). Bermuka manis menyimpan seribu muslihat.
Misinya selalu menghadirkan bibit-bibit perpecahan dan perseteruan anak bangsa.
Sungguh tak punya harga diri orang seperti itu, sulit ditemukan setetes nurani bertengger dalam jiwanya. Aku tidak tau, bagaimana sistem kerja nalarnya si jongos itu beravonturir.

Ia bagai benalu pada pepohonan hutan belantara, orang Bugis sering menyebutnya CIPPE’ LAMACUI. CIPPE’ LAMACUI kerap menyangga ranting secara ‘gratis’. Jejemarinya menggengam kuat dengan cengkraman ala lem alteco, MAKKAPIJE’ agar tak runtuh.

Seakan berakar padahal numpang selamanya. Benalu tidak memiliki perasaan, mengharap sari makanan dari dahan yang ditumpanginya, toh masih tega menyedot (merampas) makanan si pemilik graha, hingga inang kering layu.

Tidak sulit menemukan benalu di setiap pohon yang terus melambai-lambai nyiurnya, namun tega merusak produksi buah. Pohon beserta anatominya tak pernah menyadari bahaya latent; suatu ancaman bagi sang pemilik tumbuhan. Menusuk klip serat kayu, melilit tangkai hingga merusak canggah persatuan.

Syahdan, Bila didiamkan, benalu bisa menginvasi ranting-ranting lain. Penyebaran benalu terkadang dibantu sekawanan burung & satwa lainnya. Apabila burung memakan buah lalu memuntahkan bijiannya pada dahan pohon, itulah leluri berkecambah menjadi bibit-bibit benalu. Benalu, merupakan tumbuhan ‘terkutuk’ yang tak tahu malu.
Demikianlah representatif benalu durjana yang mencekik harapan tuan tanaman.

Lantas, apa kaitan benalu dengan aktivis dunia maya Permadi Arya alias Abu Janda yang kini kasusnya sudah mulai difollow up akibat desakan publik?

Bila dilustrasikan sebuah pohon, Abu Janda itu benalunya.

Cuitan demi cuitannya kerap membuat gaduh paguyuban Muslim. Bias lengkingannya dianggap menjelek-jelekan syariat Islam: “Agama Islam itu Arogan”, demikian model unggahannya di media sosial twitter, yg nantinya menjadi ‘pemantik’ emosi umat Muslim nusantara.

Sebelumnya sudah berkali-kali dilaporkan, namun sepertinya dia kebal hukum. Siapa backingnya ya?

Aku mengajak netizen agar secepatnya unfollow raungan demi raungan Abu Janda, ini bahaya! Tugasnya orang ini sebagai bayaran dalam mengadu domba, memfitna dan berdusta di dalam layar ponselnya. TAU BALI BELLA’! Dia sudah kehilangan arah dalam hidupnya, membiarkan waktu tanpa makna dengan merasa tak berdosa sedikit pun.

Ya, Abu Janda tak lebih seorang penyusup, penggonggong dan perusak Nahdlatul Ulama (NU). Abu Janda telah memanfaatkan nama besar NU untuk kepentingan pribadi dan lambat laun bisa merusak keutuhan NU.

Label lainnya, sesungguhnya dia itu musang berbulu domba, menghalalkan segala macam cara. Anehnya, setiap zaman selalu muncul Abu Janda-Abu Janda lain.

Ia hadir dalam lingkaran NU, tapi tidak dilibatkan.
Tampak di aula musyawarah, namun tidak diberi wewenang bersuara.
Berpakaian loreng ala Banser, namun hanya dipinjamkan tuk berpose.
Bergerak tapi tidak bebas melangkah.

Punggawa-punggawa NU pasti merasa kecolongan & kebobolan, tanpa mengecek latar belakang ‘petandang’ Abu Janda sebelumnya. Komunitas Nahdiyin tdk menyadari ancaman baginya.

Saudaraku! Selama benalu (Abu Janda) bertengger di belantara NU, supply uap air tak akan jernih ke organology tumbuhan. Lantas, bagaimana cara membasmi benalu perusak, agar aneka pepohonan dapat berbuah lebat, manis nan segar?

Disarankan “semprot racun pestisida berkualitas tingkat tinggi” Mariki’ di!

Opini
Oleh DR H Suf Kasman