Peran Shelter Warga dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Penghapusan Stigma Covid-19 di Masyarakat

dprd-makassar

Online24jam, Makassar, – IOM Indonesia melalui program “Enhancing Multi-Sectoral Covid 19 Response at the National and Sub-National Level in Indonesia” yang didukung oleh ECHO, merupakan kordinator Sub Klaster Kordinasi dan Manajemen Tempat Pengungsian (KMTP) dibawah Klaster Nasional Pengungsian dan Perlindungan (Klasnas PP). IOM menyadari bahwa kondisi bencana, baik bencana alam maupun non alam seperti bencana Covid 19, membuat perempuan, anak dan kaum rentan lainnya (difabel dan lansia) beresiko lebih tinggi mengalami Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan semakin memperburuk kondisi ketidaksetaraan yang dialami oleh mereka.

Sebagai bentuk komitmen IOM Indonesia yang mendukung segala bentuk penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dan kekerasan berbasis gender, diperlukan upaya penguatan kordinasi menangani kerentanan serta peningkatan kapasitas penyedia layanan berbasis masyarakat. Sebagai garda terdepan dan perpanjangan tangan pemerintah dalam mencegah kasus kekerasan dan penanganan kasus, Shelter Warga memiliki resiko besar terdampak virus Corona dimana mereka kerap menemani penyintas dan anggota masyarakat yang memerlukan pendampingan.

Workshop penguatan Shelter Warga yang dilakukan selama 2 hari di Novotel Hotel pada tanggal 3-4 Maret 2021 di Makassar yang dipandu oleh Institute of Community Justice (ICJ) bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Shelter Warga dalam melakukan pendampingan yang sesuai dengan protokol tetap pencegahan Covid 19 terhadap penanganan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) serta layanan sscial lainnya serta pencegahan dan penanganan kasus perempuan yang mendapatkan stigma, pelabelan, diskriminasi, dan kekerasan berbasis gender akibat pandemi.

Membuka acara workshop ini, Sekda Kota Makassar, Ir. Muh. Ansar, M.Si berterima kasih kepada Shelter Warga yang secara sukarela membantu tugas pemerintah dalam hal membantu masyarakat yang menjadi korban kekerasan atau memerlukan layanan sosial sehingga tepat bila Shellter Warga dinyatakan sebagai pahlawan lokal atau “local hero”. Bapak Son Ha Dinh selaku Program Kordinator untuk Wilayah Indonesia Timur dalam sambutannya mewakili IOM Indonesia menyatakan apresiasinya terhadap keramahan dan penerimaan dari pemerintah Kota Makassar pada para migrant yang ditangani IOM sehingga mereka bisa mendapatkan fasilitas layanan sosial, membaur dan berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan baik.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Ibu A. Tenri A. Palallo dalam pemaparannya menyatakan bahwa Shelter Warga yang berada dilevel RT/RW memiliki peran dan fungsi penting dalam mencegah kekerasan pada perempuan dan anak serta kaum rentan lainnya, namun disisi lain mereka juga memerlukan peningkatan kapasitas yang mana peran dari Lembaga Non Pemerintah atau Lembaga Internasional dibutuhkan juga untuk bersama-sama pemerintah berkordinasi dan saling berintegrasi sehingga bisa lebih baik dalam memberikan layanan.