OPINI : “Pangeran” Dibalik Pandemi

dprd-makassar

Online24, Toraja – Sejak wabah virus covid-19 pemerintah menetapkan kebijakan untuk melarang kegiatan yang bersifat massal dan menciptakan mobilisasi massa, kehidupan Andi Pangeran Tandilangi Parassa (29) berubah total.

Ia yang sehari-hari berprofesi wiraswasta di kampungnya, Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), telah kehilangan sejumlah sumber pendapatan. Hampir semua klien maupun koleganya membatalkan atau menunda pekerjaan hingga waktu yang belum ditentukan. Praktis, sumber pendapatannya menguap.

Meski begitu, dibalik pandemi Covid-19 telah memberi Pangeran-begitu ia akrab disapa-banyak pelajaran. Disaat banyak orang mengeluh, putus asa, berteriak meminta bantuan, Pangeran yang notabene juga kehilangan sumber pendapatan, memilih untuk tetap bertahan. Memang, diakui pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan banyak impian dan cita-cita. Namun bukan berarti putus harapan dan tidak bisa beradaptasi dengan keadaan serta perubahan. “Ketimbang memaki kegelapan, saya memilih menyalakan lilin.”

/Otodidak/

Pangeran tak kehabisan akal. Kendati hampir 90 persen ladang penghasilan rutinnya lenyap. Bahkan dirinya sempat stres selama beberapa hari menghadapi kondisi itu. Beruntung, lingkungan pertemanan membuatnya bisa move on, berpikir lebih jernih dan solutif. Diskusi bersama beberapa temannya menjadi titik balik Pangeran yang alumni SMAN 1 Sangalla Toraja ini dalam menghadapi krisis yang menimpanya.

“Saat itu saya tersadar bahwa investasi itu bukan cuma dalam bentuk uang atau finansial. Yang saya rasakan, investasi pertemanan pun sesungguhnya jauh lebih bisa bermanfaat di situasi seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Anak dari pasangan Haris Tandilangi’ Parassa dan Andi Nurhayati ini memilih banting stir dengan menggeluti dunia digital secara otodidak. “Saya mulai belajar koding, sistem platform daring dan segala hal terkait pengetahuan digitalisasi. Yah…boleh dibilang ini sebuah kecelakaan jika melihat latarbelakang pendidikan saya. Tapi sudahlah, pokoknya bagi saya selama ada kemauan disitu pasti ada jalan,” cerita pemuda jebolan sarjana psikologi dan magister hukum ini.

Pada saat itu, Pangeran mencoba berinovasi dengan membuat software platfrom daring yang diberinama ‘Halo Tukang’ untuk membantu masyarakat yang membutuhkan layanan jasa konstruksi. Namun progresnya tidak selaju dengan aplikasi transportasi online lokal ‘MalaTrans’ yang dirintisnya pada awal April 2021. Meski mulanya tak banyak diberitakan, diam-diam startup karya Pangeran ini telah menjelma menjadi ‘buah bibir’ di tengah masyarakat kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Bahkan ia mengklaim MalaTrans siap bersaing dengan startup decacorn dan unicorn lainnya.

Dia menyebutkan pengguna MalaTrans di dua kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara telah tembus 200 – 300 orderan penumpang perharinya. “Bila Grab dan Gojek pakai konsep lain maka MalaTrans gunakan konsep berbeda. Semangat lokal tanpa bergantung pemodal asing. Kami siap bersaing dengan platform teknologi global.”

Selain itu, Pangeran juga siap memberikan keuntungan bagi mitra driver (pengemudi) yang akan bergabung bersama MalaTrans hingga Rp300.000 – Rp500.000 per harinya. “Kami memberikan keuntungan besar bagi para driver. Kenapa tidak bonus driver motor bisa dapat bonus Rp300 ribu hanya tujuh pengantaran penumpang. Bagi driver mobil khusus lima orderan kita siapkan bonus Rp500 ribu,” tuturnya.

/Diminati/

Siapa menyangka aplikasi transportasi online MalaTrans seperti layaknya Gojek telah beroperasi di wilayah Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Yang membanggakan lagi, karena aplikasi tersebut merupakan karya anak bangsa asal Toraja yang telah menjadi ikon dan kebanggan masyarakat setempat.

“Kami juga surprise, sebelumnya tidak menyangka respon masyarakat Toraja sangat tinggi bahkan baru sebulan dua minggu kami beroperasi sudah ada kurang lebih 250 mitra driver yang bergabung,” kata Pangeran dalam obrolan via telepon, Selasa (22/6/2021).

Menurut dia, sejak pertamakali tayang di playstore 8 April 2021, jumlah dan animo pelamar yang ingin menjadi mitra yang masuk ke admin perusahaan membludak. Begitu juga permintaan layanan konsumen yang masuk sejak dilaunching 29 April 2021 sangat tinggi sehingga manajemen sempat kewalahan. “Inilah yang menjadi tantangan kami kedepan…bagaimana bisa melayani konsumen pengguna jasa dengan penambahan jumlah mitra driver yang sebanding,” ujarnya.

Aplikasi MalaTrans ini, lanjut Pangeran, hadir sebagai inovasi kemudahan bagi masyarakat khusunya warga Toraja yang bisa memilih berbagai fitur yang ada di dalamnya, yang dapat bekerjasama dengan kendaraan roda dua dan roda empat.

Dan aplikasi MalaTrans juga merupakan transportasi jasa angkut darat berbasis android yang dapat di download di play store, dimana ada layanan ojek online, layanan taxi online, kurir, Mala Food (belanja makanan), belanja kebutuhan sehari – hari (Mala Mart).

Selain itu MalaTrans juga memiliki kelebihan yakni fitur paket wisata dimana wisatawan domestik maupun mancanegara dapat dibawa keliling objek wisata suka-suka (sudah termasuk bahan bakar + driver + biaya masuk objek wisata + biaya hotel yang telah bekerjasama nantinya).

“Hanya dengan sentuhan jari, lewat aplikasi, pihaknya akan menjemput langsung penumpang menggunakan mobil atau motor sampai di depan rumah hingga ke tujuan dengan melayani seluruh kecamatan dan lembang di dua Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara.”

Sedangkan pemberian nama aplikasi MalaTrans sendiri diambil dari nama kampung halaman sang founder, yakni Buntu Mala yang terletak di Lembang Rantela’bi Sangalla, Tana Toraja. Nama Mala (Ma-ala bahasa Toraja) sendiri diartikan dalam bahasa Indonesia adalah Laku. “Jadi arti nama Aplikasi MalaTrans adalah Transportasi Laku,” ungkapnya.

Karena itu, harapan Pangeran, dengan sesuai namanya aplikasi transportasi ini akan laku digunakan masyarakat. “Yang tak kalah pentingnya juga MalaTrans diharapkan bisa memberikan penghasilan tambahan masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek maupun sopir yang menjadi mitra kami.”

Sebagai founder dan CEO MalaTrans, Pangeran mengaku terus mengembangkan bisnis startup ini. Tak hanya di tanah kelahirannya Toraja. Selain itu, juga unik karena tanpa menggunakan modal dari investor asing. Diantara berderet aplikasi karya anak bangsa yang sudah mentereng, setidaknya terselip karya pemuda asal Toraja yang tak kalah hebat dari pengembang global.

“Transportasi online besar di Indonesia seperti Gojek pernah masuk Toraja tapi tidak berhasil. Inilah yang menjadi nilai tawar kami untuk dapat bersaing di wilayah lainnya,” ujarnya optimis.

Opini : (Rusman Madjulekka)

Pemkot Makassar