Jejak Anak Turatea di Batavia (2) : “Jadi Kondektur Bus dan Tukang Parkir”

Online24, Makassar – Orang mengenal Annas GS alias ‘Karaeng Jalling’ (Karjal) seorang pamong yang berkarir di Pemprov Sulawesi Selatan (Sulsel) dan terakhir sebagai Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel sebelum pensiun.

Namun siapa sangka ternyata perjalanan hidupnya tidaklah semulus dibayangkan. Banyak cerira suka dan dukanya. “Masa kecil dan remaja saya banyak dihabiskan di Jakarta,” cerita Karjal saat berkunjung ke Jakarta, awal Desember 2019. Ia mencoba menelusuri jejak bekas rumah dan sekolahnya di Jakarta, tapi ia mendapatinya sudah berubah menjadi deretan rumah beton. Seingatnya, dirinya empat kali pindah tempat tinggal selama di Jakarta. Pernah di muara baru, luar batang, mangga besar, dan krukut.

“Saya ini lahir di Jeneponto. Tapi bisa juga dibilang anak ‘Muara Baru’ (nama kampung di Kec.Penjaringan, Jakarta Utara,red) hehe….Saya menyusul ayah yang bertugas di IP (Institut Pemerintahan) Jakarta. Saya gak bilang-bilang ikut kapal dari Makassar. Nanti udah tiba di Jakarta baru orang tua tahu dan kaget,” kisah awal Karjal menginjakan kaki di tanah Batavia.

Sejak kecil, Karjal yang sembilan orang bersaudara diajari orang tuanya untuk mandiri, tidak manja dan cengeng. Karena itu Karjal dan beberapa saudaranya yang lainnya, rata-rata ‘dititip’ tinggal bersama paman dan tantenya. “Saat merantau di Muara Baru, saya tinggal di rumah sepupu Karaeng Gatta yang sudah lama meniti usahanya di Jakarta,” katanya. Selain di muara baru, Karjal juga pernah tinggal di daerah ‘Luar Batang’. “Saya juga biasa main-main dan nginap diatas perahu yang sandar kepunyaan Karaeng Gatta di pelabuhan Sunda Kelapa,” ungkapnya.

Saat itu Karjal kecil masih sekolah menengah tingkat pertama (SMP) di sekitar stasiun kereta “Beos” (sekarang dikenal stasiun Jakarta Kota). Pada suatu ketika, saat istirahat belajar siang, seorang kawannya iseng-iseng mengajak Karjal ikut naik bus yang kebetulan disopiri ayahnya. “Ayo Nas, kita naik bus ayahku,” ajak teman sekolahnya yang berdarah Batak. Sejak itu, Karjal pun jadi keterusan menjadi kondektur bus. Apalagi dapat uang jajan. “Beosss…..sarinah, senen, blok M dan lainnya,” ujarnya mencoba mengingat nama-nama rute bus yang kerap ia teriakkan mengundang calon penumpang.

Kini, stasiun beos ini hanya untuk melayani KRL Commuter Line setelah kereta jalur jauh dan menengah dipindahkan menuju Stasiun Pasar Senen.Dilansir dari buku Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia (2016), pada akhir abad ke-19, ada lebih dari dua stasiun kereta di Batavia. Salah satunya adalah Batavia Selatan (Batavia Zuid) yang dikelola oleh perusahaan swasta bernama Bataviasche Oosterspoorweg Maatschapij. Oleh sebab itu, stasiun itu sering disebut dengan nama “Beos”, singkatan dari perusahaan itu. Versi lain, ada yang menyebut bahwa Beos diambil dari kata Batavia En Omstreken atau Batavia dan sekitarnya.

Karjal mengisahkan, banyak pengalaman yang didapat selama bekerja sebagai kondektur di bus kota. Mulai dari menghadapi anak sekolah yang sering tawuran hingga penumpang yang mengelak untuk membayar ongkos dengan berbagai alasan. Namun, dari pengalaman itu membuatnya mampu memahami karakter para penumpang, sehingga sampai saat ini Karjal dapat terhindar dari masalah.

Kerasnya kehidupan dan kehidapan malam Jakarta juga dirasakan Karjal saat dirinya tinggal di rumah pamannya di kompleks marinir Mangga Besar. Ada tetangga rumahnya yang mengajak dirinya untuk ikut bekerja untuk mendapatkan uang. “Kerja apa bang?” tanya Karjal polos. “Udah…gak usah banyak tanya ikut aja yang penting dapat duit,” ajak tetangganya itu membawa Karjal ke daerah THR Lokasari. “Pokoknya kamu atur mobil, motor dan jagain,” tambahnya.

Pada jaman itu boleh dikata berbagai kejadian tawuran, pembakaran sejumlah tempat hiburan dan sebagainya, awalnya hanya akibat rebutan lahan parkir. Ribu-ribut seperti itu memang bukanlah hal yang aneh di Jakarta. Dulu,sering terdengar kisah rebutan lahan parker di jalan sabang, Jakarta pusat, atau disekitar Blok M, Jakarta Selatan,antara arek (orang-orang asal Jawa Timur) dan Batak (perantau asal Sumatera Utara). Di sekitar pasar senen dan tanjung priok, rebutan parkir antara Makassar (perantau asal Sulawesi) dengan kelompok etnis lainnya.

Mulanya, Karjal tidak pernah membayangkan dirinya saat itu menjadi tukang parkir dan jualan bensin eceren. Motivasinya sebenarnya bukan karena uang sebab ayahnya ketika itu termasuk pejabat penting di Pemda Jeneponto, Sulawesi Selatan. “Orang tua gak tahu kalau saya jadi tukang parkir hehe,” ungkapnya tersenyum.

 

(Rusman Madjulekka)