Merdeka Belajar, Ini Positif dan Negatifnya

Online24jam, Jakarta, – Episode ke-3 Merdeka belajar kembali luncurkan dan kali ini terkait soal dana BOS setelah mencermati hal tersebut kami dari ikatan guru Indonesia memandang bahwa ada sisi positif dari episode ke-3 Merdeka belajar ini tapi di sisi lain juga ada faktor-faktor yang justru dinilai negatif

Apa saja sisi positif dan negatifnya??

Ini sisi positifnya
1. Transfer langsung dari pusat ke sekolah menjadi hal positif karena daerah terkadang menahan dana BOS dengan berbagai alasan, momentum politik pun kadang jadi faktor pembeda momentum dikeluarkannya.
2. 70% pada semester pertama adalah hal positif karena banyak kepsek atau guru nguntang untuk menalangi kebutuhan operasional dan sudah menjadi rahasia umum
3. Penambahan Rp.100.000 adalah sisi positif karena memang dana BOS ini sangat terbatas apalagi dengan jumlah honorer yang semakin banyak dan akan lebih parah jika jumlah siswa minim

Ini sisi negatifnya :
1. Penambahan 50% untuk honorer sesungguhnya kontraproduktif dengan keputusan DPR Dan BKN untuk menghapuskan Sistem Honorer, seharusnya bukan jadi 50% tetapi menjadi 0%. Biarkan pemerintah daerah memikirkan caranya menanggulangi kekurangan guru ini. Disisi lain penambahan porsi honorer otomatis mengurangi pembiayaan untuk kebutuhan lain yang juga mendesak di sekolah-sekolah.
2. Porsi dana BOS belum adil bagi sekolah dengan jumlah siswa sedikit dan kondisi geografis berat karena bilangan pembagi di sekolah berjumlah siswa banyak lebih kecil dibanding sekolah dengan jumlah siswa sedikit yang hampir pasti bilangan membaginya besar untuk berbagai kebutuhan.
3. Kemungkinan makin banyak kepala sekolah berurusan dengan hukum karena mereka akan diancam untuk membiayai sesuatu meski tak ada posnya dalam dana BOS, pemda masih punya kekuatan mengangkat dan memberhentikan kepsek dan dapat memerintahkan sesuatu ke Kepsek.

Seandainya pemerintah pusat melakukan kajian mendalam terkait hal ini, kemungkinan solusinya bisa sekaligus disampaikan dalam episode ketiga Merdeka Belajar ini

Jakarta, 11 Februari 2020
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru