Pencetak Gol di Gawang Rekonsiliasi Mattoanging

Online24, Makassar – Di awal Maret lalu, tanpa sengaja kami bertemu seorang kawan. Dia anggota DPRD Sulawesi Selatan, Ir.Selle KS Dalle. Jumpa sore itu ibarat “reuni kecil” di plaza utara kompleks GBK Senayan Jakarta. Kian lengkap ditemani segelas ‘Sarabba’ beserta pisang goreng.

Cukup lama kami tak bersua. Bung Selle (BS),begitu sering saya bersama kawan Husain Abdullah menyapanya. (Ada cerita khusus soal panggilan itu). Saat itu, BS berada di Jakarta sedang mengikuti acara kedinasan sebagai wakil rakyat dan agenda partainya.

Berbagai topik dibincangkan. Mulai calon Walikota Makassar, stadion Mattoanging, sungai Tallo, kuliner khas pisang ijo, barongko, sampai obrolan khasiat daun kelor. Beberapa kawan pun ikut nimbrung dan terlibat dalam obrolan santai tersebut.

“Ia bung, saya terinspirasi dari tulisan Pak Kiblat (wartawan senior eks Harian Suara Pembaruan) soal sejarah stadion Mattoanging dan peranan tokoh pejuang Andi Mattalatta. Intinya sederhana, dialog dan komunikasi persuasif,” ungkap Selle menyambung cerita mantan Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin ketika berinteraksi dengan kerabat Andi Mattalatta terkait aset dan lahan eks Popsa, depan Benteng Ford Rotterdam.

BS pun bercerita, pada saat itu, banyak orang selalu ribut dan silang pendapat terkait aset ‘heritage’ stadion Mattoanging, lahan reklamasi Center Point of Indonesia (CPI), masjid 99 kubah yang tak kunjung kelar, nasib stadion Barombong, dan berbagai isu ekonomi serta problematika sosial budaya yang tak kalah ‘hangat’ di ruang publik.

Tapi berapa banyak orang yang mau turun tangan mengatasi “keributan” itu? Apalagi sengkarutnya melibatkan para gajah di kancah sosial politik Sulawesi Selatan. Isunya jadi sensitif, dan salah diagnosa bisa tambah runyam.

Selle adalah sedikit yang mengambil peran. Ia mencoba hadir.Tak banyak bicara,tidak butuh pujian.Tapi peran nyata agar tak ada lagi korban dibalik perseteruan Pemprov Sulsel dengan pihak Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) yang dipimpin Andi Ilhamsyah Mattalatta soal klaim pengeloaan aset stadion Mattoanging.

Dikepala Selle ketika itu hanya ada spirit rekonsiliasi, ketimbang kita terus ribut tak berujung. Dengan mengutip kata orang bijak, ia memilih dan menyerukan agar berhentilah memaki kegelapan namun mulailah untuk menyalakan lilin.

Tak ada niat lain, selain dirinya ingin merawat silaturahmi, menjaga soliditas dan kohesi sosial sesama anak Sulawesi Selatan. Karena itu Selle pun lantas mengajak dan meyakinkan rekan sesama koleganya. “Ini momentum kita sebagai wakil rakyat, kerja bersama,” ujarnya.

Disebutkan, Selle dan Andi Ina Kartika Sari (Ketua DPRD Sulsel) diam-diam bergerilya mulai meretas jalan damai atasi konflik itu. Seperti dilansir media lokal, Ina bertugas melobi Gubernur Nurdin Abdullah, dan Selle mendekati Andi Ilhamsyah Mattalatta.

Sebenarnya Selle dan puang Il, begitu Ilhamsyah disapa, sudah bersahabat sejak lama dan punya hubungan emosional. Setelah beberapa kali pertemuan terpisah, Ina sukses meyakinkan Gubernur Nurdin untuk ketemu Ilhamsyah. Selle juga demikian, memegang janji Ilhamsyah yang mengaku siap ketemu Pak Gubernur.

Singkat kisah, Selle yang menjadi saksi menggambarkan pertemuan keduanya sangat cair. Bahkan dialek dan bahasa Bugis Makassar sering menyeruak disela-sela dialog yang menambah bumbu keakraban. “Pelan-pelan bro. Tunggu, sabar akan indah pada akhirnya….hehe,” jawab Selle tersenyum saat dihadang pertanyaan wartawan.

Pada akhirnya, Senin (2/3/2020) Gubernur Nurdin dan Ilhamsyah Mattalatta (YOSS) bertemu secara resmi di Gubernuran Jl.Jendral Sudirman Makassar. Disaksikan Ina dan Selle yang berbahagia, konflik keduanya diakhiri. Dan Pemprov Sulsel secara resmi diberi tanggungjawab merenovasi dan mengelola Mattoanging menjadi stadion modern.

Diakui Selle, jalan rekonsiliasi memang tidak mudah.Terjal dan butuh kesabaran. Apalagi dirinya yang sebelumnya punya jejak digital bersuara vokal dan lantang melakukan koreksi terhadap berbagai dugaan penyelewengan Gubernur Nurdin melalui ‘Hak Angket”.

Namun bagi Selle, kendala psikologis itu tak menyurutkan upaya rekonsiliasi yang digagasnya. Karena prinsip mantan akivis pers mahasiswa di era 80-an ini, segala beda tak boleh jadi penyekat. Namun tak juga memaksakan untuk jadi sama.

“Biarkan beda tetap ada. Tak harus jadi penghalang untuk tetap saling bicara. Respek satu sama lain, maka Insya Allah segalanya pun mengalir tanpa rekayasa,” tandasnya.

Opini Oleh : Rusman Madjulekka