Jejak Anak Turatea di Batavia (1)

“Bang Anas dari Muara Baru”

Suatu hari,di awal bulan penghujung 2019. Di sebuah kedai kopi,bilangan Sarinah Jl.M.H.Thamrin Jakarta. Tanpa sengaja saya bertemu seorang pria paruh baya yang datang ditemani dua orang rekannya. Ia mengaku baru beberapa hari tiba di Jakarta dari kota Makassar (Sulawesi Selatan) untuk suatu keperluan. “Pa kabar dinda,” sapanya ramah menyambut uluran tanganku.

Sudah lama kami tak bertemu. Suasana perjumpaan pagi menjelang siang itu terasa santai, cair, dan hangat karena dengan sesekali diwarnai tawa dengan joke-joke khas pria yang bernama asli Annas GS. Tapi dirinya lebih akrab disapa dengan nama Karaeng Jalling atau “Karjal”. Selama ini, memori saya terbatas hanya mengenal Karjal sebagai sosok pamong yang berkarir sebagai PNS dari bawah dengan berbagai jabatan dan tugas yang diembannya hingga pensiun di Pemprov Sulawesi Selatan.

Selain itu, ia juga dikenal hobi memelihara kuda dan ikut perlombaan pacuan kuda. Minatnya di sektor pertanian dan perikanan pun cukup tinggi. Karena itu, usai pensiun dia pun menggarap budidaya ikan air tawar dan garam di kampungnya di Jeneponto (Sulawesi Selatan). “Jangan lupa,saya juga petani rumput laut di kampung,” tambahnya tersenyum sembari melirik kawan disampingnya, yang Ketua Umum DPP Asperli (asosiasi petani pembudidaya rumput laut indonesia), Arman Arfah.

Pada kesempatan itu, kawan saya bernama Awaluddin (mantan aktivis PB HMI di-era Anas Urbaningrum), membisiki saya agar mengundang khusus Karjal dan dua rekannya itu untuk menghadiri acara talkshow Hari Nusantara hari Jumat tanggal 13 Desember 2019 dan ikut makan ikan bersama di Pasar Ikan Modern (PIM) “Muara Baru” Jakarta Utara.

Mendengar sebutan “Muara Baru” tiba-tiba Karjal kaget dan seolah tersentak dengan memperbaiki posisi duduknya. Kami pun penasaran. “Kenapa ki’ Karaeng?” tanyaku seraya meraba sesuatu yang mungkin membuatnya kurang sreg atau tersinggung. Apalagi sisi lain Karjal dikenal agak temperamental. “Maafkan saya, kalau ada yang tidak berkenan. Siap…salah, karaeng,” sambungku lagi. Ia diam sejenak seperti sedang berpikir. “Tidak…tidak justru saya berterima kasih. Karena adinda sudah mengingatkan kembali memori masa kecilku di Muara Baru,” jawabnya pelan yang membuatku lega.

Ia pun bercerita masa kecilnya. Menurutnya, saat menempuh pendidikan sekolah dasar hingga remaja dirinya banyak menghabiskan waktu dengan pergaulan anak-anak di pesisir utara kota Jakarta tersebut. Mulai dari Tanjung Priok, Cilincing, Marunda, Angke dan sekitarnya merupakan nama kampung yang tidak asing bagi Karjal remaja. Masa itu, ia terbilang aktifnya bergaul dan berinteraksi sosial, tidak hanya dengan kawan sebayanya tapi juga warga dan tokoh masyarakat sekitar wilayah yang dikenal “Texas”nya Jakarta masa itu.

Ia mengaku saat itu, dirinya tumbuh dilingkungan yang keras dan menuntut dirinya juga secara tidak langsung harus berjibaku untuk mempertahankan eksistensinya. “Apalagi dari kampung, kita dibekali filosofi hidup Siri’,” ungkapnya. Maka sejak itu dirinya melekat dan dikenal dengan panggilan “Bang Anas”.

Menerawang ke tempo doeloe, kampung Muara Baru tetap lestari di memorinya. Karjal jadi teringat pasar ikan Muara Baru yang selalu padat pengunjung. Keramaian calon pembeli yang memadati kios-kios yang menjual aneka jenis ikan. Seperti apa pasar ikan Muara Baru setelah menjadi Pasar Ikan Modern (PIM)? Sayang belum sempat ia kunjungi.

Wilayah Jakarta Utara dalam kenangan masa kecil Karjal adalah pasar ikan dan aktivitas pelabuhan. Lelaki ini masih ingat bagaimana hilir mudik sepeda penjaja ikan, sayuran, sembako, melintas di depan rumahnya. Kenangan kisahnya bermain dan tawuran dengan temannya. Karjal kecil juga gemar mandi di laut tak jauh dari tempat tinggalnya. “Airnya masih bersih dan banyak ikannya,” tuturnya tentang wajah kawasan Muara Baru beberapa dekade silam. Kenangan indah Jakarta tempo doloe itu kembali berputar setiap kali ia melintas di kawasan Jakarta Utara. Di tempat itu ia bisa merasakan tiupan angin laut,bunyi mesin perahu dan kapal nelayan.

“Beberapa waktu lalu, pernah saya diminta Pak Kapolres setempat untuk memfasilitasi dan mengumpulkan semua preman di wilayah Jakarta Utara di sebuah restoran untuk silaturahmi dan pak Kapolres meminta sama-sama menjaga ketertiban dan keamanan,” kisah Karjal.

Sejenak ia menghentikan lanjutan cerita masa kecilnya itu. “He…he malu-malu ka’ kalau mengingat kenangan masa kecilku itu,” tuturnya tersenyum. * (Rusman Madjulekka).